Roadshow Wakil Ketua DPRD Kota Mataram ke Sekolah-sekolah (2), SMPN 6 Mataram Pangkas Lima Ekskul, SMPN 15 Sulit Capai Kualitas
Jika
SMKN 2 dan SMKN 3 Mataram mampu mempertahankan kualitasnya karena memang
ditopang oleh partisipasi masyarakat, tidak demikian halnya dengan SMPN 6
Mataram. Dalam roadshow Wakil Ketua
DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, SH., (HDS) ke SMPN 6 Mataram terungkap
bahwa bekas RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) terpaksa memangkas
setidaknya lima kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Yakni, ekskul tari,
bulutangkis, tenis meja kasidah dan tenis lapangan. Ini lantaran tidak ada
anggaran untuk menyelenggarakan lima ekskul tersebut.
KEPALA
SMPN 6 Mataram, Hj. Harwini, SPd., dalam penjelasannya kepada HDS di ruang
kerjanya mengaku, begitu status RSBI dicabut, tingkat partisipasi masyarakat
kontan menurun drastis. Melorotnya partisipasi masyarakat terhadap peningkatan
mutu pendidikan di SMPN 6 Mataram diakuinya, berdampak sangat signifikan.
Harwini menyebutkan, dulu pihaknya rutin memberikan pengayaan terhadap siswa.
Terlebih menjelang ujian nasional. ‘’Sekarang sama sekali tidak ada,’’ akunya.
Selain
itu proses belajar mengajar tidak lagi menggunakan LCD. Saat ini, sambung
Harwini, ada 20 LCD di SMPN 6 Mataram. Kondisi inipun belum ideal dengan jumlah
kelas yang ada. Idealnya satu kelas menggunakan satu LCD. Penggunaan fasilitas
ini membuat sekolah yang berlokasi di Jalan Udayana tersebut dihantui
membengkaknya tagihan listrik. ‘’Kita bayar listrik Rp 10 juta per bulan,’’
sebutnya.
Banyak
fasilitas sekolah yang dibeli melalui dana dari partisipasi masyarakat. Bahkan
dari Rp 1 miliar anggaran yang parkir di SMPN 6 Mataram, hanya Rp 400 juta yang
berasal dari APBD Kota Mataram. ‘’Kalau sama BOS Rp 1,5 miliar,’’ imbuhnya.
Harwinipun mulai pusing dengan melorotnya partisipasi masyarakat. Sementara cost per siswa di SMPN 6 Mataram
mencapai Rp 5-6 juta per siswa. Ia khawatir kondisi ini akan berdampak pada
mutu pelayanan.
Ia
berharap dana pendukung yang memadai dari APBD Kota Mataram. Sebab selama ini,
untuk menggaji pegawai honor, diambil dari dana BOS yang jumlahnya tidak
seberapa. Untuk guru honor dibayar Rp 25 ribu per sekali pertemuan. Sedangkan
pegawai honor di TU hanya diberikan Rp 100 ribu per bulan.
Sementara
itu, di SMPN 15 yang notabene sekolah reguler juga tidak mampu berbuat banyak
dalam membenahi mutu pendidikan di sekolah ini. Kepala SMPN 15 Mataram, Drs.
Munahar mengaku belum mampu menyamai kualitas SMPN 2, SMPN 6 dan SMPN 1 Mataram
karena yang bersekolah di SMPN 15 Mataram tergolong ekonomi menengah ke bawah.
Menurut dia, saat berdiskusi dengan HDS, mengapa SMPN 2, SMPN 6 dan SMPN 1
Mataram berkualitas karena di sana bersekolah anak-anak yang orangtuanya
berpendidikan tinggi dan ekonomi yang mapan.
Sehingga,
untuk menggali partisipasi orang tua murid, tentu tidak terlalu sulit. Ia
mengakui, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh besar kecilnya anggaran
yang ada. SMPN 15 Mataram tidak memiliki sumber anggaran lain selain dana BOS
yang nilainya mencapai Rp 1,3 miliar. Angka ini dicapai mengingat jumlah siswa
di SMPN 15 Mataram tercatat 1.467 orang. Dari jumlah ini, Munahar menyebutkan
260 siswa tercatat sebagai penerima BSM (Bantuan Siswa Miskin) yang menandakan
bahwa siswa bersangkutan tergolong miskin. BOS pun tidak sepenuhnya mampu
mengcover kebutuhan sekolah, seperti penyelenggaraan kegiatan ekskul. Munahar
mengaku, ketidakmampuan SMPN 15 Mataram bersaing dari segi kualitas dengan
sekolah-sekolah lain seperti SMPN 6, SMPN 1 bahkan SMPN 2 Mataram, input yang
terlalu berat. Ia mencontohkan, ketika pihak sekolah berinisiatif
menyelenggarakan pengayaan, justru banyak siswanya yang absen. Baik ketika
pengayaan ini dilakukan pada pagi hari maupun sore hari.
Komentar