Roadshow Wakil Ketua DPRD Kota Mataram ke Sekolah-sekolah (3), Agar Target Kualitas Tercapai, Sekolah Harus ''Mahal''

SANGAT REPRESENTATIF - Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, SH., bersama Kepala SMAN 1 Mataram Fatwir Uzali meninjau proses belajar mengajar (PBM) di kelas XI (1) sekolah setempat. PBM di kelas ini berlangsung sangat representatif. Karena selain dilengkapi dengan pendingin ruangan atau AC juga menggunakan perangkat LCD dalam menyampaikan materi pelajaran. Perlengkapan elektronik ini pengadaannya bersumber dari partisipasi orang tua siswa yang mampu. (Suara NTB/fit)

Sama dengan SMK, kualitas sebuah SMA juga salah satunya sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi masyarakat. Semakin tinggi partisipasi masyarakat, akan semakin berkualitas sekolah tersebut. Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, SH., (HDS) yang juga alumni SMAN 1 Mataram, dalam roadshow-nya ke SMAN 1 Mataram dan SMAN 7 Mataram juga menemukan fakta keterkaitan partisipasi masyarakat dengan kualitas sekolah.

KEPALA SMAN 1 Mataram, Fatwir Uzali kepada HDS secara tegas menyatakan, bahwa sekolah itu harus ''mahal''. Lalu, siapa yang membayar kemahalan tersebut? Menurut dia, sekolah terdiri dari tiga komponen. Yakni pemerintah, guru dan masyarakat dalam hal ini orang tua siswa. ''Yang membayar kemahalan ini adalah yang tiga ini,'' sebutnya. Ia mengaku, jika hanya mengandalkan pemerintah, sekolah akan sulit berkembang. Anggaran yang diberikan pemerintah tidak sebanding dengan yang diberikan para orang tua.

Di SMAN 1 Mataram yang dulunya berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional), pemerintah hanya mampu memberikan dana rutin sekitar 10 - 20 persen saja dari total RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah) senilai Rp 3,220 miliar. Beruntung dari pemerintah pusat SMAN 1 Mataram banyak mendapat bantuan untuk pembangunan ruang kelas baru. Namun demikian, sulit menghindari siswa masuk sore karena memang masih kekurangan ruang kelas.

Adapun partisipasi orang tua siswa, lanjut dia, dimanfaatkan SMAN 1 Mataram  untuk terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan di sekolah ini. Apalagi SMAN 1 Mataram, kata dia, memikili motto kualitas adalah tradisi. Dan, partisipasi orang tua siswa sudah terbukti berdampak positif terhadap kualitas. Fatwir menyebutkan, output siswa SMAN 1 Mataram banyak diterima di universitas favorit di seluruh Indonesia.

Untuk bisa mempertahankan kualitas tersebut, maka proses belajar mengajar harus disupport finansial yang memadai. Selain itu pengadaan alat dan bahan mengajar juga untuk membenahi infrastruktur sekolah, menciptakan kelas yang nyaman dengan kelengkapan alat-alat elektronik. Selanjutnya, sekolah bertanggungjawab terhadap amanah orang tua dari uang komite. Sekolah dengan segala bentuk manajemen harus bisa membuat produk peningkatan kualitas. Sebagai salah pembuktian kualitas SMAN 1 Mataram adalah diraihnya nilai UN tertinggi dari jurusan IPA. Dimana, dari 11 nilai tertinggi itu, delapan diantaranya berasal dari SMAN 1 Mataram. ''Orang tua tidak perlu khawatir, meskipun RSBI sudah dicabut, tapi kita masih menggunakan manajemen RSBI,'' ujarnya.

Pihaknya, demikian Fatwir, tidak bisa membayangkan bagaimana nasib sekolah tanpa partisipasi masyarakat. ''Kalau tidak ada partisipasi, kita akan ubah manajemen menjadi manajemen sangat sederhana yang hanya menjalankan rutinitas saja,'' tandas mantan Kepala SMAN 7 Mataram ini. Dengan manajemen sederhana ini, ia memastikan sangat sulit melakukan langkah-langkah peningkatan kualitas SDM apalagi pengembangan infrastruktur sekolah. SMAN 1 Mataram dengan 904 siswa, selama ini, aku Fatwir banyak mengambil pekerjaan orang tua. ''Tapi kalau tiba-tiba tidak ada partisipasi orang tua, inikan lucu,'' cetusnya.

Namun demikian, SMAN 1 Mataram berkomitmen mempertahankan kualitas dan siap mempertanggungjawabkan partisipasi masyarakat. Bentuk pertanggungjawaban itu berupa penyelenggaraan pendidikan secara berkualitas yang meliputi delapan standar pendidikan. Khususnya kualitas pelayanan dan kualitas lulusannya dalam berbagai event. Baik kompetisi akademik seperti olimpiade O2SN dan kegiatan olahraga, seni dan lainnya.

Sementara itu, di SMAN 7 Mataram yang sering menentang upaya sekolah menggali partisipasi justru datang dari kalangan orang tua siswa yang notabene mengerti soal partisipasi masyarakat. Ini terjadi lantaran masyarakat berpegang pada kata pendidikan gratis. Menurut Kepala SMAN 7 Mataram, HM. Muslim, SPd., M.Ed., banyak kegiatan di sekolah ini pasti mandek jika tidak ada partisipasi masyarakat. Selama ini, SMAN 7 Mataram melaksanakan 27 kegiatan ekskul. Bahkan, 80 persen anggaran penyelenggaraan ekskul itu bersumber dari partisipasi masyarakat.

Namun demikian, sekolah dengan 50 persen siswa miskin, masih banyak kekurangannya. Salah satunya, dari delapan standar sekolah secara nasional, belum ada satupun item yang mencapai angka 2. SMAN 7 Mataram sebagai sekolah baru, mendambakan adanya pelatihan-pelatihan serta penguatan, namun ini masih terbentur anggaran. Selain itu, SMAN 7 Mataram masih kekurangan delapan ruang kelas. Dua ruang kelas telah rampung tepat waktu, karena adanya partisipasi masyarakat. Kondisi kurangnya RKB ini mau tidak mau membuat PBM tidak nyaman, dimana satu kelas diisi 45 siswa. Padahal idealnya menurut standar nasional 32 siswa.

Ini sangat mempengaruhi kualitas siswa. Apalagi SMAN 7 Mataram masih menerapkan jam sekolah siang hari. ''Kalau masuk siang kemampuan anak berpikir kurang, mereka cenderung mengantuk. Dampak yang paling nyata adalah pengelolaan sekolah,'' sebutnya. (fit/*)

Komentar