Mataram (Suara NTB) -
Kota tua Ampenan sejatinya mampu menarik minat
wisatawan untuk berkunjung ke Kota Mataram. Sayangnya, pada malam hari, suasana
historis kota tua Ampenan kurang dapat dinikmati lantaran minimnya penerangan
di sana.
Penilaian kalau kota tua Ampenan minim penerangan
justru datang dari kalangan wisatawan yang notabene berasal dari luar Mataram.
Minggu malam, beberapa wisatawan memutuskan beranjak dari eks Pelabuhan
Ampenan. Pantauan Suara NTB, belum
lima menit wisatawan tersebut menginjakkan kaki di eks pelabuhan Ampenan. Saat
diwawancarai Suara NTB, wisatawan
bernama Wati tersebut mengaku, tidak nyaman berada di eks Pelabuhan Ampenan.
Selain gelap, katanya, eks Pelabuhan Ampenan juga
terlihat kumuh. PKL yang berjualan di tempat itu, menurut wisatawan yang
berasal dari Jawa Timur ini, tidak tertata dengan baik. Demikian pula di
sepanjang Jalan Pabean hingga monumen jangkar, masih nampak gelap. ''Lampunya
kurang banyak, jadi gak bisa dinikmati,'' cetusnya. Padahal, kalau saja
sarana penerangannya ditambah dan
pedagang ditata dengan rapi, tentu akan menjadi daya tarik tersendiri.
Wati mengaku mengapresiasi bangunan tua yang masih
kokoh berdiri di kawasan kota tua Ampenan. Hanya saja di satu sisi, ia juga
miris melihat kondisi bangunan yang terlihat suram, bahkan angker lantaran
catnya dibiarkan pudah. Wati berpendapat, kalau bangunan-bangunan yang memang
mempertahankan bentuk aslinya itu dilakukan pengecatan ulang, ia yakin, akan
sangat menarik.
Ditempat terpisah, Selasa (17/9) kemarin, Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram, Yeyen
Seprian Rachmat, SE., MSi., berpandangan, apa
yang disampaikan oleh wisatawan yang berkunjung ke Kota Mataram, tidak ada
salahnya. ‘’Itu senyatanya yang mereka rasakan,’’ cetusnya. Hal itu kemudian,
sambungnya, harus menjadi perhatian serius Pemkot Mataram dalam melakukan
penataan kota tua Ampenan.
Masukan-masuk yang ada, bisa dijadikan referensi.
Bagaimanapun, kata Yeyen, masukan yang baik adalah yang berasal dari wisatawan.
‘’Itulah yang harus dibenahi,’’ imbuhnya. Politisi Partai Hanura ini sepakat
dengan apa yang menjadi keluhan wisatawan, bahwa kota tua Ampenan minim
penerangan. Bahkan, tidak hanya di kota tua Ampenan saja, tapi di banyak
tempat, sarana penerangan jalan masih terbilang kurang. ‘’Memang ruas-ruas
jalan yang ada di Mataram minim penerangan,’’ tandasnya.
Demikian halnya keberadaan PKL yang juga dikeluhkan
lantaran penataan yang kurang rapi serta tampilan yang kumuh harus menjadi
agenda perbaikan sesegera mungkin. ‘’Ini harus digagas oleh Pemkot Mataram.
Mulai dari penyedian sarana di kota tua Ampenan, termasuk masalah penerangan
jalan, penataan PKL. Ini harus menjadi prioritas kalau memang kota tua Ampenan
itu mau berbenah,’’ terangnya.
Toh, lanjut Yeyen, dari segi penganggaran, baik Pemkot
Mataram maupun DPRD Kota Mataram mendukung revitalisasi kota tua Ampenan.
Sekarang tinggal bagaimana implementasinya. Berikutnya, semua kalangan,
termasuk masyarakat harus mengawal program revitalisasi eks Pelabuhan Ampenan
tersebut.
Ia berharap kota tua Ampenan sebagai kota pusaka nilai
historisnya bisa dilestarikan. Termasuk bangunan-bangunan masa lalu yang
menggambarkan betapa jayanya Ampenan beberapa puluh tahun yang lalu.
Melestarikan nilai historis itu, menurut Yeyen dapat dilakukan Pemkot Mataram
dengan membangun komunikasi yang intens, tentu dengan mengedepankan nilai-nilai
kearifan lokal.
Revitalisasi Ampenan hendaknya tidak merubah identitas
dari kota tua Ampenan. Keluhan dari para wisatawan harus dijawab segera oleh
Pemkot Mataram dalam bentuk program. ‘’Kalau keluhanya soal penerangan, segera
diatasi. Bukan sekadar terang tapi tentu harus ada nilai artistiknya,’’
demikian Yeyen.
Peran kecamatan dan kelurahan setempat dalam
melaksanakan revitalisasi kota tua Ampenan dianggap cukup vital dalam
mengkomunikasikan program besar ini. Sehingga, revitalisasi tidak melulu atas
keinginan pemerintah, tetapi juga ada kesadaran masyarakat. Yeyen mencontohkan
pengecatan ulang bangunan tua, yang sejatinya bisa dikerjasamakan dengan
masyarakat atau pemilik bangunan.
Termasuk lampu yang ada di toko-toko dan juga
rumah-rumah yang belum terpasang, harus terpasang. ‘’Tentunya tanpa membebani
masyarakat, karena ini untuk kepentingan bersama,’’ ujarnya. Kalau revitalisasi
kota tua Ampenan berhasil, ia yakin akan memberi dampak yang signifikan bagi
masyarakat. Ia mengimbau kepada Pemkot mataram untuk merangkul masyarakat
setempat. Intinya, revitalisasi kota tua Ampenan harus melibatkan partisipasi
masyarakat. (fit)
Komentar