Bahas Karut Marut KMS, Raker Komisi II – Eksekutif Sempat Memanas

Tunjukkan KMS

Mataram (Suara NTB) –
Sekda Kota Mataram, Ir. HL. Makmur Said, MM., Direktur RSUD Kota Mataram, dr. HL. Herman Mahaputra dan Kadikes Kota Mataram dr. Usman Hadi, Senin (7/10) kemarin lagi-lagi dipanggil Komisi II DPRD Kota Mataram. Rapat kerja yang membahas maraknya laporan masyarakat terkait pemanfaatan KMS (Kartu Mataram Sehat), sempat memanas.

Terjadi adu argumen antara Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati, S.Sos., dengan Sekda Kota Mataram dan dengan Direktur RSUD Kota Mataram. Ia meminta masyarakat pengguna jasa KMS tidak dipersulit ketika membutuhkan pelayanan di RSUD Kota Mataram. Sebab, hingga saat ini sudah ada tiga laporan yang masuk melalui Dewan terkait pelayanan RSUD Kota Mataram dalam melayani pasien KMS. ‘’Menghina KMS sama dengan menghina Walikota,’’ ujarnya. Katanya, ia dan rekan-rekannya di Komisi II bukan hanya duduk di belakang meja. Terhadap laporan yang masuk, pihaknya juga melakukan pengecekan di lapangan. Dalam kesempatan itu, ia meminta komitmen RSUD Kota Mataram supaya ada alur yang jelas pascapasien menerima rujukan dari Puskesmas.

Ditambahkan, anggota Komisi II DPRD Kota Mataram Yeyen Seprian Rachmat, KMS belum bisa memenuhi kapasitas sumberdaya manusia, dan sumber daya finansial. Menurut politisi Partai hanura ini, KMS belum mempunyai perangkat kebijakan yang memadai. Ia menyarankan supaya Perwal terkait KMS direview dengan menekankan poin-poin penting yang perlu disosialisasikan. Ia menyadari program gratis memang sangat berat bagi Pemkot Mataram. Namun, terhadap kasus yang telah terjadi harus segera dicarikan solusinya.

Rupanya, merasa terus-terusan dipersalahkan sebagai buntut peluncuran KMS, Sekda dan Direktur RSUD Kota Mataram terkesan ‘’menyerang’’ Ketua Komisi II. ‘’Yang ibu percaya ini, kita atau orang yang melapor ini,’’ tanya Sekda Kota Mataram, Makmur Said kepada Ketua Komisi II. Makmur menyayangkan setiap ada satu atau dua kasus, Komisi II langsung reaktif dengan memanggil eksekutif. Katanya, beberapa laporan masyarakat yang masuk ke Dewan bersifat kasusistis. Ia menegaskan bahwa program pelayanan kesehatan gratis menggunakan KMS, sedang berjalan. Ia meminta RSUD Kota Mataram diberi kesempatan melaksanakan program tersebut. Ia berjanji tiga bulan ke depan, program ini akan dievaluasi.

Konsep RSUD Kota Mataram, demikian Makmur yang tiba di DPRD Kota Mataram terlambat satu setengah jam dari jadwal yang ditetapkan, tetap mengedepankan pelayanan prima. ‘’Beri kami kesempatan, jangan kami dipanggil kasus per kasus begini,’’ keluhnya. Sekda menjelaskan, program KMS ini baru berlangsung sebulan lebih, sehingga masih menemui kendala di sana sini. Katanya, kartu berwarna kuning yang dibubuhi tanda tangan Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh berjudul KMS itu hanya menggratiskan rawat inap kelas III. ‘’Kalau sekadar lewat, tidak rawat inap, harus bayar,’’ cetusnya.

KMS tersebut, sambung Makmur diperuntukkan bagi warga yang hampir miskin dan hampir kaya yang tentu tidak memiliki fasilitas Jamkesmas maupun Jamkesda. Ia menuding banyak masyarakat seolah-olah miskin ketika ada program berbau gratis. Pihaknya belum bisa melakukan sosialisasi yang maksimal karena terkendala belum cairnya anggaran untuk itu.

Pada kesempatan yang sama, Direktur RSUD Kota Mataram, dr. HL. Herman Mahaputra justru mempersalahkan pasien. Katanya, banyak pasien minta dilayani seenaknya. ‘’Jangan anak buah saya disalahkan. Kami abdi negara tapi ada batas kewajaran,’’ ujarnya kesal. Ia menyatakan, bahwa setahun pendapatan RSUD Kota Mataram sekitar Rp 1 miliar lebih. ‘’Kalau kami dipaksa mengeluarkan Rp 2 miliar, bulan depan dimana kami cari uang, sekarang saja kami tidak punya uang,’’ tandasnya.

Senada dengan Sekda, dr. Jack juga menyayangkan sikap Komisi II yang terkesan mempersalahkan pihak RSUD Kota Mataram terkait KMS. ‘’Kalau semua pengaduan ditampung, lalu dimana baiknya kami (RSUD Kota Mataram, red),’’ pungkasnya. (fit)

Komentar