JANJI
Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh yang akan menutup pasar beras, belum dipandang
sebagai langkah tegas. Pasalnya, sejak pernyataan akan menutup tempat
prostitusi di Cakranegara itu, sampai saat inipun belum ada langkah konkret
yang mengikuti janji orang nomor satu di Mataram ini.
Memang
pernah ada upaya yang dilakukan ke arah sana beberapa tahun yang lalu.
Menjadikan pasar beras menjadi pasar Panglima atau pasar burung. Aktivitas
pasar Panglima berlangsung dari pagi hingga sore hari. Lalu bagaimana dengan
malam hari? Malam hari nyaris tidak ada aktivitas berarti di sana. Suasana
minim penerangan dan tidak ada kegiatan yang digagas Pemkot Mataram berlangsung
pada malam hari, di penghujung Jalan Kebudayaan Cakranegara ini dimanfaatkan
oleh oknum-oknum yang disinyalir PSK.
Meski
sejumlah pihak mengklaim jumlah PSK di pasar beras sudah jauh berkurang
dibandingkan dulu, namun suasana malam di kawasan tersebut tidak pernah
berubah. Begitu malam tiba, perempuan-perempuan berpakaian seronok yang diduga
PSK berdiri di pinggir jalan. Tujuannya tidak lain ingin menjajakan diri kepada
para pria hidung belang.
Banyak
kalangan mendorong Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh mengambil langkah setegas
Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang telah menutup Dolly,
pusat prostitusi terbesar di Kota Surabaya. Alih-alih mengambil langkah yang
sama, sejauh ini Pemkot Mataram belum pernah melakukan evaluasi terhadap
langkah yang sudah ditempuhnya dengan mengubah pasar beras menjadi pasar
Panglima.
Pemkot
Mataram nampaknya juga belum memikirkan akan membuat kegiatan apa pada malam
hari di ujung Jalan Kebudayaan itu. Desakan dari sejumlah kalangan yang merasa
risih, malu bahkan tidak nyaman dengan keberadaan praktik prostitusi di pasar
beras tersebut sepertinya hanya dianggap angin lalu saja. Wajar kalau Wakil
Ketua DPRD Kota Mataram, I Wayan Sugiarta menyebut Pemkot Mataram tidak tegas.
Ketika
desakan menutup pasar beras menguat barulah Pemkot Mataram mengirim aparat
Satpol PP untuk melakukan razia. Razia wanita kupu-kupu malam itu dilakukan
sekali dua kali saja. Apalagi, tidak ada tindak lanjut yang jelas pascarazia
tersebut. Tidak ada salahnya Walikota Mataram mencontoh langkah Walikota
Surabaya kalau memang itu mampu menjadi solusi penutupan pasar beras untuk
selamanya.
Tidak
masalah kalau misalnya ada anggaran yang harus dikeluarkan untuk penutupan
pasar beras sepanjang itu bisa menjadi solusi. Karena bagaimanapun, penutupan
tempat prostitusi seperti pasar beras memang membutuhkan ketegasan dalam segala
hal. Saat ini masyarakat sangat menanti realisasi janji penutupan pasar beras. Masyarakat
juga berharap bahwa janji penutupan pasar beras itu tidak sekadar isapan jempol
belaka. (*)
Komentar