SENIN
(28/7) umat muslim di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Fitri. Momentum
Idul Fitri merupakan momentum yang sangat dinanti-nanti bagi umat muslim di
muka bumi ini. Setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa, maka Idul Fitri
menjadi wadah melebur dosa dan kesalahan. Namun ada makna penting di balik Idul
Fitri. Idul Fitri hendaknya dapat dijadikan momentum memperbaiki akhlak.
Seperti
disampaikan beberapa khatib dalam khutbah salat Idul Fitri, bahwa sebagai
manusia biasa tentu kita pernah bertutur-kata atau berperilaku yang mungkin
saja, baik diketahui atau tidak, menyebabkan orang lain tersakiti atau merasa
tersinggung. Bahkan mungkin juga kita
secara sadar –dikarenakan sesuatu dan lain hal- pernah melakukan kezhaliman
terhadap orang lain. Sebagai manusia biasa keadaan seperti ini mungkin-mungkin
saja terjadi.
Oleh
karena itu marilah kita semua memanfaatkan hari raya Idul Fitri ini untuk
saling bermaaf-maafan, lahir maupun batin supaya kita semua bersih dari dosa
kesalahan terhadap sesama manusia, sebuah dosa kesalahan yang apabila tidak segera
kita selesaikan maka kerugian dan kesulitan besarlah yang akan kita hadapi pada
hari kiamat nanti.
Sebab,
ada dua hal penting yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga yakni
bertakwa atau beribadah kepada Allah dan berakhlak yang mulia. Berakhlak mulia
ini salah satunya mau meminta maaf atau sebaliknya membuka pintu maaf bagi
sesama. Keduanya ini adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan satu sama
lain. Keduanya ini laksana tiket yang secara mutlak harus kita miliki demi
untuk lancarnya perjalanan kita masuk surga.
Akhlak
terhadap sesama manusia akan menjadikan kita sebagai calon penghuni surga di akhirat nanti. Oleh karena itu marilah
suasana Idul Fitri ini kita manfaatkan
untuk memperbaiki akhlak atau perilaku
kita. Baik akhlak kepada orangtua, akhlak kepada isteri, akhlak kepada suami,
akhlak kepada anak maupun akhlak kepada
sesama manusia. Tanpa akhlak yang baik dan mulia maka kelak seseorang akan mengalami kesulitan
untuk masuk ke dalam surga.
Zaman
sekarang ini kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta yang terjadi. Dimana, kemerosotan akhlak sudah mewabah dimana-mana,
terutama sekali akhlak para generasi muda. Padahal mereka menjadi tumpuan harapan
untuk melanjutkan estafet perjuangan dalam rangka menegakkan kejayaan Islam dan
kaum muslimin. Akhlak mulia merupakan faktor penentu kita masuk surga adalah
cerminan dari jiwa yang bersih, jiwa yang menghargai orang lain dan mengakui
kekurangan diri sendiri. Ketika berhadapan dengan siapapun, tutur kata dan perilaku
orang yang berakhlak mulia akan selalu menyenangkan. (*)
Komentar