Reses I Gusti Bagus Hari Sudana Putra



Dari Pendidikan, Insentif Kader Posyandu hingga Nasib Perajin Cukli


Mataram (Suara NTB) –

Reses menjadi momentum yang cukup dinanti oleh anggota DPRD Kota Mataram, I Gusti Bagus Hari Sudana Putra, SE. Ia meyakini banyak masalah yang dihadapi masyarakat. Benar saja, pada reses yang telah dijalaninya sejak Sabtu (1/11) hingga Selasa (4/11), begitu banyak aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada dirinya.



Berbaur dan duduk satu forum dengan warga membuat anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram ini mengetahui secara langsung apa yang menjadi keinginan masyarakat. Uniknya, Gus Hari, sapaan akrab Menggala Utama Pecalang Sikep Cakra Yudha NTB ini, tidak hanya mengambil lokasi reses di basis suara yang telah menghantarkannya menjadi anggota Dewan.



Gus Hari juga menggelar reses di daerah-daerah yang selama ini tidak pernah disentuh oleh anggota Dewan dari dapil Cakranegara. Seperti diketahui, Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat ini mendulang suara signifikan pada Pileg lalu dari Lingkungan Karang Jasi. Namun demikian, reses juga dilaksanakan Gus Hari di Negara Sakah, Sweta Timur, Rungkang Jangkuk dan Lingkungan Karang Lelede. Rabu (5/11) dirinya siap menggelar reses di Banjar Jeruk Manis.



Bahkan Gus Hari bertekad, dalam lima tahun ke depan semua daerah di Cakranegara akan dikunjunginya secara bergilir. Aspirasi yang mengemuka dalam kesempatan tatap muka langsung dengan konstituennya itu, masih seputar masalah klasik, seperti pendidikan dan kesehatan. Tetapi di luar masalah pendidikan dan kesehatan sesungguhnya masih banyak aspirasi masyarakat yang tentu membutuhkan perhatian pemerintah.



Seperti masalah tenaga kerja, infrastruktur jalan lingkungan dan drainase. Yang tidak kalah pentingnya adalah aspirasi dari kader Posyandu yang mengeluhkan minimnya insentif mereka. Oleh Pemkot Mataram, kader Posyandu hanya diberikan insentif Rp 50 ribu per bulan yang diambil tiap tiga bulan. Menurut Gus Hari, kondisi ini berkebalikan dengan tuntutan Pemkot Mataram menjadikan kader Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan kepada masyarakat.



‘’Seharusnya disesuaikan dengan kelayakan hidup. Ya kisarannya Rp 100 ribu per bulan,’’ ujar Ketua Orari Kota Mataram ini. Sementara itu walaupun Pemerintah pusat telah mencanangkan pendidikan gratis namun pada praktiknya tidak berkorelasi di daerah. ‘’Malah kartu Jamkesda yang kuning itu sudah tidak berlaku lagi,’’ kata Gus Hari. Pada bidang pendidikan, selain terungkap kekurangan guru SD, juga masalah aset Pemkot Mataram berupa bangunan SDN 14 Cakranegara yang diduga berdiri di atas lahan milik warga bernama Dewa Gede Rene.



Saat reses ke Rungkang Jangkuk, pengusaha hotel ini juga menemukan fakta nasib perajin cukli di daerah tersebut yang kian terpuruk. Terhadap aspirasi masyarakat di dapil Cakranegara Gus Hari akan menyuarakan hal itu dalam berbagai kesempatan rapat kerja bersama eksekutif. Ia berharap aspirasi masyarakat dapat ditindaklanjuti dalam APBD Kota Mataram 2015 mendatang. (fit)

Komentar