Jangan Jadi Jualan Politik



TARGET Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh yang menginginkan rumah tidak layak huni nol, diapresiasi kalangan Dewan. Hanya saja, menurut anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram, I Gusti Bagus Hari Sudana Putra, SE., dalam intervensi rumah tidak layak huni itu, kerap tidak sesuai dengan kondisi yang ada.

Sebagai kota yang sudah maju, dengan klaster cukup tinggi tidak dipungkiri masih ada rumah tidak layak huni. ''Jadi rumah-rumah itulah yang seharusnya kita cross check, lalu kita data, seperti apa sebenarnya penanganannya. Jangan hanya lips service saja,'' pintanya. Apalagi tahun 2015 ini merupakan tahun politik.

Karena, lanjut Gus Hari, masyarakat sudah tahu semua apa saja yang telah dilakukan pemerintah sekarang. ''Apa progress report yang dilakukan. Apa-apa saja Pemeliharaan yang telah dilakukan,'' ujarnya. Dikatakannya, di enam kecamatan di Kota Mataram masih banyak rumah tidak layak huni. Politisi Demokrat ini sanksi dengan target rumah tidak layak huni nol yang sampaikan Walikota.

Pasalnya bangunan-bangunan yang notabene aset Kota Mataram seperti MWP (Mataram Water Park) tidak terurus. Gus Hari meminta Pemkot Mataram tidak muluk-muluk memasang target penanganan rumah tidak layak huni. Ia lebih sepakat kalau target penanganan rumah tidak layak huni untuk mengurangi rumah tidak layak huni. Namun demikian, sambungnya, bukan tidak mungkin Pemkot Mataram bisa mencapai target rumah tidak layak huni nol asalkan ada keseriusan dari dinas atau Pemkot Mataram.

Menurutnya, pola pemberian bantuan terhadap pemilik rumah tidak layak huni, tidak relevan dengan kondisi yang ada. ''Kalau kita liat kondisi kekinian, kita lihat sekarang harga bahan bangunan luar biasa,'' katanya. Apalagi misalnya masyarakat yang diberi bantuan tidak mumpuni di bidang pertukangan, tentu harus merogoh kocek lagi untuk membayar upah tukang. Selain itu, kata Gus Hari, standar rumah tidak layak huni harus diperjelas. Ia lebih setuju bantuan rumah tidak layak huni dengan pola bedah rumah. (fit)

Komentar