SKPD Dinilai Kurang Koordinasi

Mataram (Suara NTB) –
Kalangan anggota DPRD Kota Mataram menyayangkan terjadinya dugaan tumpang tindih program oleh tiga SKPD yang menjadi temuan Inspektorat Kota Mataram. Dewan tidak menampik bahwa program yang dilakukan SKPD, menjadi PR (Pekerjaan Rumah, red) besar bagi pimpinan daerah Kota Mataram dalam hal mengoptimalkan anggaran yang ada.

‘’Sebenarnya tumpang tindih program itu, tidak boleh terjadi,’’ sesal Sekretaris Komisi III DPRD Kota Mataram, Ismul Hidayat kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Senin (4/4). Karena, program di masing-masing SKPD sudah melalui proses MPBM (Musyawarah Pembangunan Berbasis Masyarakat). ‘’Inikan sebenarnya tinggal bagaimana SKPD membagi mana yang menjadi urusan dasar bagi SKPD-nya. Mana yang memang lintas sektoral,’’ demikian Ismul.

Untuk menghindari terjadinya tumpang tindih program, baik Bappeda maupun Sekda sebagai user harus melihat program yang bersangkutan menjadi domain SKPD mana. Sebab, lanjut politisi PKS ini, kepala daerah akan kesulitan menilai kinerja para pembantunya kalau program yang sama juga dikerjakan oleh SKPD lain.

‘’Banyak taman-taman dibangun bagus tetapi tidak terawat. Tetapi ketika kita tanyakan, ada kesan saling lempar tanggungjawab,’’ ujarnya. Pihaknya tidak menginginkan hal-hal seperti itu terjadi kembali. Ismul sepakat dengan pendapat Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana bahwa inovasi SKPD jangan sampai mengedepankan ego sektoral.

Hal ini, akan berpengaruh terhadap penyerapan anggaran. Ia mengingatkan kepada SKPD tidak hanya serius menggarap program yang bersumber dari dana pusat. ‘’Tetapi program yang dari APBD ini dibuat-buat. Justru yang anggarannya dari daerah diorientasikan pada sebesar-besarnya kepentingan masyarakat,’’ imbuhnya.

Ismul tidak menyangkal bahwa lolosnya program yang sama dalam penganggaran di APBD, karena saat pembahasan APBD, hal-hal yang dibahas masih bersifat umum. Namun, ke depan, kata Ismul pantauan terhadap SKPD dilakukan saat rapat evaluasi per tiga bulan. Untuk itu SKPD diminta terbuka terkait kegiatannya setelah disetujuinya SKPD terkait mengelola anggaran.


‘’Tapi tidak ada koordinasi sehingga terjadi tumpang tindih. Harusnya revisi itu duduk bersama antar SKPD terkait. Mana yang menjadi domain SKPD masing-masing. (fit)

Komentar