Anggota
Komisi II DPRD Kota Mataram, IGB Hari Sudana Putra, SE., kembali menyoroti
keberadaan Cidomo—alat transportasi tradisional yang ditarik oleh kuda—yang
beroperasi di wilayah Kota Mataram. Selain dinilai menimbulkan masalah
kebersihan, kehadiran Cidomo dari luar daerah juga dianggap mengganggu
ketertiban lalu lintas dan estetika kota.
Hal
ini disampaikan Gus Arik, sapaan akrabnya, dalam rapat gabungan komisi-komisi
dewan di DPRD Kota Mataram, Kamis (17/7). “Kadang-kadang kan mereka ini terlewatkan dari konsentrasi kita waktu itu,”
ujarnya. Ia menyebut bahwa kotoran kuda yang ditinggalkan di jalanan telah
menimbulkan persoalan kebersihan dan kesehatan yang serius.
Politisi
Partai Demokrat ini menilai bahwa upaya penertiban sebenarnya sudah pernah
dibahas bersama Dinas Perhubungan. Namun hingga kini, masalah tersebut belum
tertangani secara tuntas. Ia menyoroti maraknya Cidomo dari luar Kota Mataram
yang masuk dan beroperasi di kota, terutama di sekitar pasar-pasar tradisional.
“Banyak
sekali Cidomo di luar Kota Mataram masuk Kota Mataram, beroperasi di Kota
Mataram. Mereka angkut di beberapa pasar tradisional,” ungkapnya.
Untuk
itu, Gus Arik mendorong adanya sistem identifikasi atau penandaan yang jelas
terhadap Cidomo yang berasal dari wilayah Kota Mataram. Misalnya, dengan
memberikan warna atau tanda khusus agar petugas mudah membedakan mana Cidomo
lokal dan mana yang dari luar daerah.
Selain
itu, anggota dewan dari daerah pemilihan Cakranegara ini juga mengkritisi
perilaku sebagian kusir Cidomo yang tidak membuang kotoran kudanya secara
tertib. “Begitu kotorannya ditampung, nanti ndak
ada orang, dilepas pak ujungnya. Jadi berserakanlah kotoran itu,” katanya.
Meski
demikian, ia melihat potensi pengelolaan limbah kotoran kuda tersebut. Menurut
anggota dewan tiga periode ini, jika para kusir memiliki kesadaran dan
kreativitas, kotoran tersebut dapat dicampur dengan sekam atau limbah organik
rumah tangga untuk dijadikan pupuk.
Kesadaran
itu, lanjutnya, harus terus disampaikan secara berkelanjutan. Ia bahkan
menyarankan agar pendekatan reward and
punishment diterapkan oleh pemerintah atau dinas terkait sebagai bagian
dari upaya perubahan perilaku. “Harapan kita, Dinas Perhubungan, Pak Ketua. Itu
secara umumnya lah,” demikian Gus
Arik.
.jpeg)
Komentar