Mataram Ingin Jadi KLA, Sarana Bermain Minim, Mall Jadi sasaran


Mataram (Suara NTB) –
Keinginan Kota Mataram menjadi Kota Layak Anak (KLA) patut diapresiasi. Hanya saja, komitmen menjadi KLA itu harus dibarengi dengan pemenuhan sarana dan prasarana yang diperuntukan bagi anak-anak. Sejauh ini, menurut Ketua Fraksi Partai Hanura DPRD Kota Mataram, Yeyen Seprian Rachmat, SE., MSi., kepada Suara NTB, Minggu (21/4) sarana bermain untuk anak-anak di Mataram masih minim.

Sehingga, lanjut dia, banyak anak-anak yang menjadikan mall sebagai sasaran untuk bermain. Memang di mall tersedia sarana permainan anak-anak, tetapi jumlahnya masih terbatas. Belum lagi, anak-anak terpaksa berbaur dengan berbagai kalangan usia jika harus bermain di mall. Kondisi ini, menurut dia, jelas tidak terlalu nyaman bagi anak-anak.

Dewan, dalam hal ini, sangat mendukung keinginan Kota Mataram menjadi KLA. Namun, untuk mewujudkan keinginan ini, masih banyak hal yang perlu dipenuhi Pemkot Mataram. Seperti pemenuhan sarana bermain dan juga pendidikan. Khusus mengenai pendidikan, harus diatur regilasi jam belajar masyarakat seperti yang telah diterapkan di daerah-daerah lain seperti Yogyakarta.

Melihat kondisi sejauh ini, kata dia, Kota Mataram masih memungkinkan untuk bisa mewujudkan keinginan menadi KLA. ‘’Kalau memang konsepnya seperti itu, pengembangan pembangunan ke utara dan selatan bisa dimanfaatkan untuk pembangunan berkonsep KLA, jangan melulu diisi oleh kepentingan orang dewasa’’ ujarnya.

Sebelumnya, Kamis (18/4) Perwakilan Unicef wilayah Timur mengunjungi Kota Mataram. Dalam kesempatan itu Perwakilan Unicef memaparkan tentang pemenuhan hak anak melalui KLA sekaligus membentuk gugus tugas KLA sebagai dasar pembentukan KLA di Kota Mataram. Pada kesempatan itu Kepala Bappeda Kota Mataram Lalu Martawang memberikan apresiasi terhadap program KLA. Kegiatan ini, menurut dia, merupakan cara baru untuk meningkatkan komitmen bersama agar tidak ada lagi anak-anak di Kota Mataram yang tidak mendapatkan haknya. “Kita tidak ingin mendengar lagi ada anak yang tidak dapat sekolah, anak yang berada di setiap perempatan jalan, anak yang tidak bisa mendapat buku atau seragam sekolah serta hak-hak lainnya,” tegasnya.

            Terkait dengan itu Martawang berharap agar pembentukan gugus tugas KLA di Kota Mataram ini bisa menyatukan komiten bersama SKPD-SKPD terkait yang memiliki program  komitmen pemenuhan kebutuhan hak anak. Hal ini tentu akan meningkatkan komitmen dan kepedulian untuk mewujudkan Kota Mataram sebagai KLA. (fit)

Komentar