Jelang PPDB, Diduga Banyak Calo Berkeliaran


Mataram (Suara NTB) -
Menjelang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di Kota Mataram, diduga banyak calo yang mulai berkeliaran. Modusnya, calo PPDB menawarkan kepada calon siswa baru dan orang tua calon siswa baru. Dengan iming-iming bisa membantu calon siswa masuk di sekolah-sekolah negeri.

Informasi yang dihimpun Suara NTB menyebutkan, calo PPDB masuk melalui pintu pejabat yang punya kedudukan cukup berpengaruh, baik di lingkup Pemkot Mataram maupun di sekolah-sekolah. Tarif yang ditawarkan untuk bisa mendapat satu bangku di sekolah negeri mencapai jutaan rupiah.

Menanggapi gejala maraknya percaloan menjelang PPDB, Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, I Wayan Sugiartha kepada Suara NTB di Mataram, Sabtu (11/5) mewanti-wanti Dinas Dikpora Kota Mataram dan juga sekolah-sekolah negeri supaya selektif menerima siswa. Artinya, lanjut dia, kalaupun ada rekomendasi dari pejabat, persyaratan tidak boleh diabaikan. Misalnya persyaratan nilai. Kalau memang nilai siswa yang bersangkutan telah sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pihak sekolah maka tidak perlu ada pungutan.

''Seperti yang kita tekankan kepada masyarakat yang akan masuk sekolah, bahwa tidak ada pungutan apapun,'' cetusnya. Untuk mengantisipasi praktik percaloan pada proses PPDB, Dinas Dikpora bahkan Walikota Mataram diminta menempatkan petugas Satpol PP di sekolah-sekolah untuk mengawasi kemungkinan terjadinya praktik percaloan. ''Jangan sampailah ada calo, anak-anak kita mau sekolah,'' ujarnya.

Ia juga mengingatkan kepada para orang tua calon siswa baru supaya tidak terlalu memaksakan kehendak harus bersekolah di sekolah negeri favorit sementara nilai siswa bersangkutan tidak memenuhi standar nilai. ''Nah ini yang merusak,'' imbuhnya. Ia berharap Walikota mengeluarkan imbauan agar tidak menggunakan jasa calo dalam proses PPDB.

Wayanpun tidak menampik, dengan kedudukannya sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, tidak sedikit konstituennya yang meminta bantuan agar bisa masuk ke sekolah-sekolah tertentu. Namun demikian, sambung politisi PDI Perjuangan ini tidak mau gegabah langsung menuruti keinginan konstituennya itu. ''Ya saya lihat dulu nilainya. Kalau memang terlalu jauh dari standar nilai sekolah yang diinginkan, maka saya arahkan dia cari sekolah lain yang sesuai dengan nilainya,’’ demikian Wayan.

 Karena bagaimanapun juga, kalau setiap ada permintaan dari masyarakat lantas diturutin, tentu akan berpengaruh pula pada nasib sekolah-sekolah lain yang notabene bukan sekolah favorit. Selama ini hampir semua calon siswa baru menghendaki sekolah di sekolah favorit. ''Kalau begini bagaimana nasib sekolah-sekolah yang ada di pinggiran kota. Bagaimana pula nasib sekolah swasta,'' pungkasnya. (fit)

Komentar