Mataram Semakin Padat Program KB Diklaim Berjalan Baik


Mataram (Suara NTB) -
Tingkat kepadatan penduduk Kota Mataram terus bertambah. Salah satu pemicunya diyakini karena tingginya angka kelahiran. Di Mataram, jumlah penduduk telah mencapai 427 ribu jiwa. Meskipun ada BPPKB (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana), namun tidak serta merta bisa mengendalikan jumlah kelahiran. Maka tidak heran jika masih dijumpai adanya kelahiran anak keenam bahkan ketujuh di masyarakat.
Kepala BPPKB Kota Mataram, Lalu Sofyan Arsyad yang dikonfirmasi Suara NTB di kantornya, Rabu (1/5) kemarin mengatakan secara umum, KB d Kota Mataram sudah berjalan baik. Saat ini, ber-KB, kata dia, bukanlah suatu keharusan seperti dulu. BPPKB tidak bisa menghalang-halangi apalagi masyarakat untuk memiliki anak lebih dari dua. Lagipula, bidang KB yang ada di BPPKB lebih pada pengaturan jarak kelahiran anak. ‘’Kalau dia (masyarakat, red) mampu, ya tidak apa-apa. Tapi bagi yang tidak mampu alangkah baiknya mengikuti KB sehingga anak-anaknya bisa mengikuti pendidikan,’’ cetusnya.

Dalam hal ini, masyarakat juga harus mengukur kemampuannya. Sebab, jika kepadatan penduduk terus bertambah sebagai akibatnya tinginya angka kelahiran, bukan tidak mungkinberpotensi menimbulkan kantong kemiskinan seperti keberadaan rumah kumuh. Akibat-akibat seperti ini, mau tidak mau akan menjadi beban pemerintah daerah, dalam hal ini Pemkot Mataram.

Mantan Kepala Dinas Pendapatan ini menegaskan, sosialisasi tetap dilakukan pihaknya, terutama kepada masyarakat yang kurang mampu. ‘’Bagi keluarga yang tidak mampu, untuk obat-obatan semua kita gratiskan,’’ ucapnya. Sosialisasi kerap menyasar daerah pinggiran. Sebab untuk di tengah kota, Sofyan mengklaim hampir tidak ada masalah.

Ditempat terpisah, Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, I Wayan Sugiartha mengatakan, di satu sisi pemerintah memang tidak bisa memaksa masyarakat harus memiliki anak dua. Apalagi, lanjut dia, budaya masyarakat sasak di Kota Mataram masih cenderung punya anak lebih dari dua orang. Namun peran pemerintah, harus intens melakukan sosialisasi. Walaupun memang, untuk mengubah pola pikir masyarakat membutuhkan waktu yang panjang.

Politisi PDI Perjuangan ini mendorong BPPKB terus memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya ber-KB. ‘’Jangan sampai ada kata menyerah,’’ cetusnya. Adanya kelahiran anak keenam bahkan ketujuh di tengah masyarakat, mengundang pertanyaan, seperti apa intensitas sosialisasi yang dilakukan BPPKB. Wayan menyarankan BPPKB menggandeng kader Posyandu untuk mensosialisasikan pentingnya KB. (fit)

Komentar