MCC (Mataram Craft Center) sejatinya bisa menjadi pusat perdagangan
mutiara terbesar di Mataram. Sayangnya kepopuleran MCC kini tinggal kenangan.
Banyak wisatawan yang datang ke Mataram untuk berburu mutiara, oleh pemandu
wisata diarahkan ke tempat lain. Terlebih dengan kondisi MCC saat ini yang terkesan
hidup segan mati tak mau.
DARI puluhan toko yang ada
di MCC lebih gampang menghitung jumlah toko yang buka. Karena memang toko yang
buka hanya beberapa. Sedangkan sebagian besar tutup. Kondisi enggannya perajin
emas dan mutiara berjualan di MCC sudah terjadi sejak H. Abdul Karim menjabat
sebagai kepala dinas Dispenda Kota Mataram. Berikutnya posisi Karim digantikan
oleh Lalu Sofyan Arsyad tapi juga tidak ada perubahan. Bahkan sejak pengelolaan
pasar tidak lagi menjadi urusan Dispenda, Dinas Koperindag sebagai pihak yang
diberikan wewenang, bergeming terhadap kondisi MCC.
Menurut Ketua Fraksi
Partai Hanura DPRD Kota Mataram, Yeyen Seprian Rachmat, SE., MSi., sebenarnya
permasalahan MCC sudah lama menjadi sorotan dan perhatian Dewan. Hanya saja
tindaklanjutnya, sejauhmana upaya Pemkot Mataram untuk mendayagunakan lagi
bangunan itu.
Anggota Komisi II DPRD
Kota Mataram ini sangat menyayangkan ada suatu areal yang sangat strategis
letaknya di pusat Kota Mataram tapi tidak termanfaatkan dengan baik. Oleh
karena itu, ia berharap Pemkot Mataram melalui Walikota bisa menginstruksikan
SKPD terkait untuk melakukan revitalisasi. Apapun yang dibutuhkan terkait
revitalisasi MCC, lanjutnya, Dewan akan sangat mendukung.
‘’Tapi apa langkah-langkah
itu, belum terlihat sampai saat ini,’’ imbuh Yeyen. Pemkot Mataram harus
mempunyai kajian dan analisis mengapa perajin enggan masuk ke MCC. ‘’Apakah layout bangunanya atau apa,’’ ujarnya.
Karenanya, kajian serta analisis mutlak perlu dilakukan sebelum revitalisasi
itu terlaksana.
Yeyen pun tak heran ketika
sekarang kondisi MCC banyak plafonya yang jebol dan kerusakan di bagian-bagian
yang lain. Sebab, katanya, manakala bangunan itu tidak termanfaatkan maka akan
rusak dengan sendirinya karena tidak ada perawatan. Karenanya, langkah cepat
Pemkot Mataram untuk melakukan revitalisasi itu sangat dinanti.
Dari revitalisasi nantinya
bisa diketahui, apakah MCC akan digunakan kembali untuk tempat penjualan
mutiara atau bahkan pusat oleh-oleh. Hal ini harus dikomunikasikan dengan para
penyewa. Sebab keberadaan MCC sebetulnya memudahkan. Sedangkan Kampung-kampung
mutiara yang ada, bukan masalah dan tidak bakal bersinggungan dengan MCC.
Kampung mutiara tersebut memang sudah lama ada sebagai identitas turun temurun
di Sekarbela.
Kepala Dinas Koperindag
Kota Mataram, Wartan, SH., yang dikonfirmasi Suara NTB di ruang kerjanya, Rabu (8/5) terkesan lempar tanggung
jawab. ''Coba konfirmasi ke Dispenda soalnya retribusi toko-toko itu masih dia
(Dispenda, red) yang pungut,'' kilahnya. Namun demikian, Wartan tidak menampik
jika secara global pengelolaan MCC telah diserahkan kepada Dinas Koperindag.
Ironisnya, meski jelas-jelas MCC telah menjadi tanggungjawab Dinas Koperindag,
namun Wartan nampaknya belum ada rencana untuk merevitalisasi MCC. Terhadap
kondisi MCC saat inipun, mantan kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota
Mataram ini mengklaim sebetulnya tidak ada masalah. ''Kita sudah taruh IKM kita
didalam,'' cetusnya. (fit)

Komentar