MCC Nasibmu Kini, Tiga Kali Ganti Kadis Tak Kunjung Ada Perubahan


MCC (Mataram Craft Center) sejatinya bisa menjadi pusat perdagangan mutiara terbesar di Mataram. Sayangnya kepopuleran MCC kini tinggal kenangan. Banyak wisatawan yang datang ke Mataram untuk berburu mutiara, oleh pemandu wisata diarahkan ke tempat lain. Terlebih dengan kondisi MCC saat ini yang terkesan hidup segan mati tak mau.

JEBOL - Kondisi MCC Kota Mataram yang terletak di simpang empat Pagesangan Kota Mataram, semakin memprihatinkan. Nampak salah satu bagian plafon yang ada di lantai II MCC jebol. Ditambah lagi semua toko di lantai II tidak termanfaatkan.

DARI puluhan toko yang ada di MCC lebih gampang menghitung jumlah toko yang buka. Karena memang toko yang buka hanya beberapa. Sedangkan sebagian besar tutup. Kondisi enggannya perajin emas dan mutiara berjualan di MCC sudah terjadi sejak H. Abdul Karim menjabat sebagai kepala dinas Dispenda Kota Mataram. Berikutnya posisi Karim digantikan oleh Lalu Sofyan Arsyad tapi juga tidak ada perubahan. Bahkan sejak pengelolaan pasar tidak lagi menjadi urusan Dispenda, Dinas Koperindag sebagai pihak yang diberikan wewenang, bergeming terhadap kondisi MCC.

Menurut Ketua Fraksi Partai Hanura DPRD Kota Mataram, Yeyen Seprian Rachmat, SE., MSi., sebenarnya permasalahan MCC sudah lama menjadi sorotan dan perhatian Dewan. Hanya saja tindaklanjutnya, sejauhmana upaya Pemkot Mataram untuk mendayagunakan lagi bangunan itu.

Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram ini sangat menyayangkan ada suatu areal yang sangat strategis letaknya di pusat Kota Mataram tapi tidak termanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu, ia berharap Pemkot Mataram melalui Walikota bisa menginstruksikan SKPD terkait untuk melakukan revitalisasi. Apapun yang dibutuhkan terkait revitalisasi MCC, lanjutnya, Dewan akan sangat mendukung.

‘’Tapi apa langkah-langkah itu, belum terlihat sampai saat ini,’’ imbuh Yeyen. Pemkot Mataram harus mempunyai kajian dan analisis mengapa perajin enggan masuk ke MCC. ‘’Apakah layout bangunanya atau apa,’’ ujarnya. Karenanya, kajian serta analisis mutlak perlu dilakukan sebelum revitalisasi itu terlaksana.

Yeyen pun tak heran ketika sekarang kondisi MCC banyak plafonya yang jebol dan kerusakan di bagian-bagian yang lain. Sebab, katanya, manakala bangunan itu tidak termanfaatkan maka akan rusak dengan sendirinya karena tidak ada perawatan. Karenanya, langkah cepat Pemkot Mataram untuk melakukan revitalisasi itu sangat dinanti.

Dari revitalisasi nantinya bisa diketahui, apakah MCC akan digunakan kembali untuk tempat penjualan mutiara atau bahkan pusat oleh-oleh. Hal ini harus dikomunikasikan dengan para penyewa. Sebab keberadaan MCC sebetulnya memudahkan. Sedangkan Kampung-kampung mutiara yang ada, bukan masalah dan tidak bakal bersinggungan dengan MCC. Kampung mutiara tersebut memang sudah lama ada sebagai identitas turun temurun di Sekarbela.

Kepala Dinas Koperindag Kota Mataram, Wartan, SH., yang dikonfirmasi Suara NTB di ruang kerjanya, Rabu (8/5) terkesan lempar tanggung jawab. ''Coba konfirmasi ke Dispenda soalnya retribusi toko-toko itu masih dia (Dispenda, red) yang pungut,'' kilahnya. Namun demikian, Wartan tidak menampik jika secara global pengelolaan MCC telah diserahkan kepada Dinas Koperindag. Ironisnya, meski jelas-jelas MCC telah menjadi tanggungjawab Dinas Koperindag, namun Wartan nampaknya belum ada rencana untuk merevitalisasi MCC. Terhadap kondisi MCC saat inipun, mantan kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram ini mengklaim sebetulnya tidak ada masalah. ''Kita sudah taruh IKM kita didalam,'' cetusnya. (fit)




Komentar