Antisipasi Inflasi perlu Sinergisitas

PEMERINTAH daerah melalui TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) nampaknya harus mulai bersiap-siap mengantisipasi kondisi menjelang bulan ramadhan. Sebab, ramadhan tahun ini bisa dikatakan agak berbeda dengan ramadhan tahun lalu. Jika pada umumnya, mendekati bulan ramadhan kerap diikuti naiknya harga kebutuhan pokok masyarakat, tahun ini, tidak hanya kondisi tersebut yang bakal dihadapi daerah-daerah. Kondisi ini akan diperparah dengan rencana kenaikan harga BBM yang disinyalir bakal terjadi dalam waktu dekat ini.

Kondisi di masyarakat yang cukup ''tertekan'' memikirkan kenaikan harga barang-barang, terutama sembako belakangan ini, yang juga dihantui kenaikan harga BBM, harus mulai diantisipasi sejak dini. TPID Provinsi NTB harus segera mencari solusi. Tidak saja solusi mengantisipasi kondisi menjelang ramadhan dan pra kenaikan harga BBM, tapi juga mengantisipasi kondisi pascapenyesuaian harga BBM. Dalam hal ini, memang harus ada jalan keluar terbaik sehingga imbasnya tidak terlalu besar.

Sebab, momentum yang hampir bersamaan, antara rencana kenaikan harga BBM, bulan ramadhan dan liburan sekolah diyakini akan memberi pengaruh yang cukup signifikan bagi inflasi di daerah ini. Risiko naiknya harga BBM seperti yang juga terjadi pada waktu kenaikan sebelumnya, menunjukkan tindakan spekulatif seperti meningkatnya antrean BBM bersubsidi. Peningkatan ekspektasi masyarakat menjelang penyesuaian harga BBM bersubsidi ini juga akan mendorong inflasi pada level yang lebih tinggi.

Kondisi ini bukan tidak mungkin akan berpegaruh pula terhadap daya beli masyarakat dan kenaikan ongkos transportasi. Karenanya pengendalian ekspektasi masyarakat, perencanaan tarif angkutan baru yang lebih hati-hati dan seksama serta pengendalian stabilitas keamanan mejadi penting dalam menahan dampak kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap laju inflasi Provinsi NTB.

Wakil Presiden Boediono sering mengingatkan kepada daerah-daerah bahwa ada lima poin penting yang harus diwaspadai daerah-daerah untuk mengantisipasi tingginya laju inflasi. Lima poin itu, menurut Wapres yakni pertama meningkatkan fungsi TPID menjadi lebih efektif. Kedua, masalah logistik, terutama di bidang logistik pangan. Baik dari sisi infrastruktur dan juga aturan pendukung kelancaran arus logistik tersebut. Ketiga, yang harus diwaspadai dalam antisipasi inflasi daerah juga masalah iklim usaha dan investasi. Bukan hanya yang bersifat jangka pendek, namun jangka panjang. Karena itu, pimpinan daerah juga harus menelaah faktor-faktor yang dapat memengaruhi dan menghambat inflasi tersebut. Keempat, yakni masalah ketahanan pangan, yang menjadi komoditi utama yang memengaruhi inflasi. Juga komoditi lainnya yang memengaruhi kelompok masyarakat miskin. Poin kelima, menurut Wapres yang harus diwaspadai juga terkait sistem respon daerah terhadap bencana, terutama dengan terjadinya perubahan iklim saat ini. Karena, lanjutnya, adanya bencana akan cukup besar memengaruhi kestabilitasan inflasi daerah.

Karenanya, menyikapi ancaman inflasi menjelang bulan ramadhan yang diperparah dengan rencana kenaikan harga BBM dan juga musim liburan sekolah, perlu ada sinergisitas antara pemerintah daerah, pertamina serta aparat kepolisian dalam rangka pengendalian risiko instabilitas ekonomi dan keamanan. (*)

Komentar