Listrik Jangan Jadi Kendala

SENIN (10/6) Pemprov NTB dan tiga investor yang akan mengelola dan memanfaatkan tiga aset daerah melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Penandatanganan MoU tersebut masing-masing untuk pembangunan NTB Convention Centre (NCC), Pembangunan Hotel Syariah di kompleks Islamic Centre dan Pembangunan Rumah Kantor (Rukan).

Ketiga bidang usaha ini jelas membutuhkan listrik yang tidak kecil. Terlebih Setelah penandatanganan nota kesepahaman tersebut, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi meminta para investor segera melakukan proses pembangunan sehingga manfaatnya segera dapat dirasakan masyarakat. Artinya, dengan menyegerakan membangun ketiga bidang usaha ini, persoalan listrik perlu dipikirkan oleh PLN sebagai sebagai satu-satunya penyedia listrik di Mataram ini.

Jangan sampai, setelah ketiganya rampung dikerjakan oleh investor, lantas persoalan listrik justru menjadi penghalang operasionalnya. PLN harus tanggap terhadap geliat kemajuan Kota Mataram khususnya dan NTB pada umumnya. Dari jauh-jauh hari PLN harus mengantisipasi kebutuhan listrik. Lihat saja, maraknya pembangunan ruko di Mataram. Pembangunan-pembangunan ini jelas membutuhkan listrik.

Tidak hanya ruko, beberapa hotel dalam skala cukup besar juga mulai dibangun di daerah ini. Sejauh ini, ketertarikan investor menanamkan modalnya di NTB, masih terfokus di Mataram sebagai ibukota Provinsi NTB. Sehingga wajar kalau kebutuhan listrik di Mataram paling besar dibandingkan kabupaten/kota lainnya di NTB. Apalagi dengan akan dibangunnya NTB Convention Centre (NCC), Pembangunan Hotel Syariah di kompleks Islamic Centre dan Pembangunan Rukan di atas aset milik Pemprov NTB.

Meski progres pembangunan ketiganya tidak rampung dalam waktu dekat, namun hal ini tidak boleh dianggap ringan. Sebab, selain faktor keamanan dan infrastruktur pendukung seperti akses jalan, ketersediaan listrik juga sangat menentukan kemajuan suatu daerah. Logikanya, bagaimana investor mau berinvestasi kalau listrik tidak mendukung. Akhirnya, investasi yang masuk, adalah investasi kecil-kecil yang kebutuhan listriknya tidak besar.

Rencana PLN Wilayah NTB menyiapkan mesin pembangkit berkapasitas 30 MW, patut diapreasi. Rencana ini diyakini merupakan bagian dari langkah antisipasi PLN mengingat meningkatnya permintaan listrik. Terutama permintaan listrik dari kalangan usaha. Baik perhotelan, property, convention hall maupun ruko. Kalangan usaha tentu berharap bahwa rencana PLN menyiapkan mesin pembangkit 30 MW tersebut bukanlah sebatas rencana atau sebaliknya, rencananya yang membutuhkan waktu panjang untuk mewujudkannya.

Kesiapan PLN dalam memenuhi kecukupan listrik dari berbagai kalangan di NTB, tentu diuji. PLN harus bergerak cepat. Jangan sampai investasi di daerah ini terkendala persoalan listrik. (*)

Komentar