Penataan Semrawut, Mataram Dikhawatirkan Jadi ’’Hutan’’ Reklame

Mataram (Suara NTB) –
Maraknya pemasangan reklame di sejumlah titik strategis di Mataram, kini menjadi sorotan Dewan. Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, Sahram, ST., bahkan menilai kondisi Mataram sekarang tak ubahnya seperti hutan reklame. Kondisi ini, kata dia, tidak sebanding dengan penerimaan dari reklame.

Beginilah penataan reklame di salah satu sudut Kota Mataram, tepatnya di dekat pos polisi di jalan Pejanggik Cakranegara. Sejumlah reklame berjejer layaknya pohon.


‘’Kita tidak munafik, adalah kontribusinya tapi sangat kecil,’’ cetusnya. Politisi PAN ini menuding hutan reklame ini terjadi lantaran tidak adanya koordinasi antara Dinas Tata Kota dan Pengawasan Bangunan (Takowasbang) dengan Dinas Pertamanan. ‘’Trotoar disikat, damija dilanggar,’’ tandasnya. Kepala Dinas Takowasbang, Ir. H. Supardi berkelit, untuk urusan reklame pihaknya tidak pernah dilibatkan. Yang dilibatkan dalam menentukan titik pemasangan reklame, akunya, hanya Dinas PU, Dishubkominfo dan kecamatan serta kelurahan.

Dikonfirmasi Suara NTB, Senin (10/6) kemarin, Kepala Dinas Pertamanan Kota Mataram, Ir. H. Makbul Ma’shum, MM., membantah pengakuan Dinas Takowasbang. Untuk reklame yang melintang jalan, seperti bando jalan, jembatan penyeberangan orang (JPO) dan megatron, Dinas Pertamanan selalu melibatkan Dinas Takowasbang, Dinas PU dan Dishubkominfo Kota Mataram, Camat dan Lurah. Sedangkan untuk reklame yang berbentuk baliho, banner dan spanduk, katanya, memang menjadi kewenangan Dinas Pertamanan untuk memberikan izin.

Menanggapi penilaian dari Komisi III, Makbul menyatakan, reklame jika ditata dengan baik, justru dapat memperindah kota. Penataan inilah yang terus dilakukan oleh Dinas Pertamanan untuk mengatur dan menertibkan reklame yang ada. Selain itu, reklame juga dapat membantu dalam hal penerangan jalan umum atau penerangan taman. Mantan Inspektur Inspektorat Kota mataram ini menegaskan, jumlah reklame yang ada saat ini, masih dalam batas yang dapat ditolerir.

‘’Dinas Pertamanan akan selalu mengatur dan menertibkan reklame sehingga tidak seperti hutan reklame, tetapi justru akan semakin mempercantik kota,’’ pungkasnya. Sementara itu, terkait penerimaan, makbul mengatakan, Dinas Pertamanan bekerja tidak semata-mata hanya menghitung PAD yang masuk. Yang terpenting justru mengatur reklame dengan baik agar kota menjadi cantik dan nyaman bagi semua pihak.

Makbul menyebutkan, target penerimaan pendapatan dari reklame pada tahun 2012 lalu Rp 1,7 miliar dan terealisasi 102 persen. Tahun 2013 ini, target sedikit meningkat menjadi Rp 1,75 miliar, dimana penerimaan sampai saat ini telah mencapai Rp 950 juta atau 56 persen. ‘’Insya Allah realisasi akan melampaui target,’’ tandasnya. (fit)

Komentar