BABS Bisa Jadi Ancaman Serius

MASALAH yang dihadapi Kota Mataram terbilang sangat komplek. Tidak sebatas masalah sosial, tapi juga masalah lingkungan. Sungai di Mataram nampaknya tidak hanya tercemar dengan seabrek sampah rumah tangga yang dibuang ke sana, tapi juga tercemar oleh aktivitas warga yang masih memanfaatkan sungai sebagai tempat MCK (Mandi, Cuci, Kakus).

Tidak perlu jauh-jauh mencari bukti, di Mataram saja, yang notabene daerah yang paling maju di NTB, aktivitas yang sering disebut sebagai kegiatan BABS atau buang air besar sembarangan masih terjadi. Sasarannya tidak hanya sungai tapi juga lahan-lahan kosong. Fenomena ini tentu berseberangan dengan apa yang telah menjadi program di Dinas Kesehatan untuk menihilkan BABS tersebut.

Ada dua hal yang kemungkinan memicu terjadinya BABS. Pertama, mungkin ini sudah menjadi kebiasaan yang masih sulit diubah. Kemungkinan kedua, warga yang buang hajat sembarangan, seperti di sungai, karena mungkin tidak memiliki sarana MCK di rumahnya. Memang, fakta di lapangan, khususnya di Kota Mataram, masih cukup banyak warga yang buang hajat di sungai. Untuk ukuran daerah yang merupakan ibukota provinsi, hal ini masih terjadi, tentu bukan hal yang membangkan.

Masalah warga yang masih BABS kelihatannya memang sepele. Namun, jika dibiarkan terus berlangsung, bahkan diabaikan, ke depan bukan tidak mungkin hal ini bakal menjadi ancaman serius bagi Kota Mataram. Terlebih Mataram baru saja berhasil merebut kembali Adipura setelah dua tahun berturut-turut gagal. Ini menjadi PR Kota Mataram khususnya dan kabupaten/kota lain di NTB. Bagaimana betul-betul mewujudkan program BABS nol.

Sebab, kalau laporan di atas kertas pada sejumlah acara-acara seremonial, kerap diklaim kalau Pemerintah sudah berhasil menekan angka BABS. Tetapi kenyataan di lapangan, sangat mudah menjumpai aktivitas yang baik tersebut. Untuk mengajak masyarakat mau beralih ke pola hidup bersih dan sehat, tentu tidak bisa hanya sebatas ajakan. Ajakan tersebut harus dibarengi dengan penyediaan sarana dan prasarana pendukung seperti WC umum atau MCK umum.

Upaya pemerintah membantu menyediakan sarana MCK juga harus disertai dengan sosialisasi pentingnya pola hidup bersih sehat dan menggalakan sosialisasi bahaya BABS tersebut. Selain itu, bantuan MCK juga harus terus dipantau supaya kejadiannya tidak sama seperti yang baru-baru ini diberitakan media. Bahwa sejumlah sarana MCK di Kelurahan Monjok menjadi mubazir lantaran tidak dimanfaatkan oleh warga setempat yang tidak memiliki sarana MCK di rumahnya.

Warga lebih memilih melakukan kegiatan MCK di sungai dekat tempat tinggal mereka. Ini sama artinya, pemerintah telah gagal mengajak masyarakat menerapkan pola hidup bersih sehat. Warga harus ditekankan untuk mau memelihara sarana MCK umum itu. Sebab, jika tidak adarasa memiliki, ketika MCK itu kotor, akan ditinggalkan kemudian warga kembali MCK di sungai. (*)

Komentar