Data Warga Miskin Harus Akurat

NIAT pemerintah untuk meringankan beban masyarakat miskin yang terkena dampak langsung kenaikan harga BBM bersubsidi, dengan memberikan BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) sebetulnya langkah yang baik. Hanya saja, pada tataran pelaksanaan di lapangan, justru terkesan amburadul. Tidak hanya di satu dua kelurahan atau kecamatan, kekacau itu hampir merata di seluruh Indonesia.

Salah satunya seperti yang terungkap di Lingkungan Melayu Tengah, Kecamatan Ampenan. Warga yang semestinya berhak menerima bantuan karena memang kondisi perekonomian keluarganya berada di garis kemiskinan, ketika pembagian BLSM berlangsung, jusru terpaksa gigit jari. Sukiman, warga Melayu Tengah yang cacat fisik sudah pasti tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Dengan kondisi tersebut, maka sudah sepatutnya ia mendapatkan BLSM.

Namun apa mau dikata, meskipun tidak kalah miskinnya dengan 77 kepala keluarga penerima BLSM di Lingkungan Melayu Tengah, tetap saja Sukiman hanya bisa menjadi penonton. Wajar kalau kemudian Kepala Lingkungan Melayu Tengah Fuad S Bamasaq, SH., menyebut data penerima BLSM itu sebagai data siluman. Sebab, dari 150 KK miskin di lingkungannya, yang mendapatkan BLSM hanya setengah lebih.

Diberbagai daerah terungkap data masyarakat miskin miskin yang kacau balau. Banyak pihak yang semestinya tidak berhak menerima, justru diberikan BLSM, sedangkan yang berhak menerima, malah luput dari BLSM. Lalu siapa yang harus disalahkan terkait data ini? Sebagai lembaga resmi yang menerbitkan data secara nasional, BPS adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kisruh data penerima BLSM tersebut.

Sebab, data BPS tidak disinkronkan dengan kondisi nyata di lapangan, sehingga banyak penerima BLSM yang salah sasaran. Namun begitu, rupanya masyarakat tidak mau tahu bahwa data penerima BLSM merupakan data dari BPS. Sebagai aparat pemerintah di tingkat bawah, kepala lingkungan maupun Lurah kerap menjadi sasaran aksiprotes dan kemarahan warga miskin yang tidak mendapatkan BLSM.

Mestinya, jauh-jauh hari sebelum penyaluran BLSM ini, ada sosialisasi secara kontinyu kepada masyarakat. Termasuk apa tujuan diberikannya BLSM serta darimana data penerima BLSM itu. Sehingga tidak ada salah persepsi kepada aparat lingkungan maupun kelurahan. Kekacauan data penerima BLSM ini menjadi puncak atas dugaan pencitraan partai maupun pemerintah. Dengan amburadulnya data penerima BLSM ini, bukan citra baik yang diterima pemerintah, tetapi betapa birokrat negeri ini belum mampu menunjukkan performance terbaiknya.

Kedepan, hal ini bisa dijadikan pelajaran. Bahwa dapat setiap penyaluran bantuan, terlebih dari pemerintah pusat, data BPS harus dicek lagi kondisinya di lapangan. Sebab, bisa saja, ketika dulunya dilakukan pendataan oleh BPS, KK bersangkutan masih berkecukupan. Lalu karena faktor sesuatu dan lain hal, banyak masyarakat menurun tingkat perekonomiannya menjadi miskin. Terhadap fenomena bertambahnya jumlah warga miskin ini, pemerintah tidak boleh menutup mata. Harus dilakukan pemutakhiran data secara berkala. Terlebih ketika ada pemberian bantuan. (*)

Komentar