SAMBUTAN - Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh memberi sambutan dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang berlangsung di halaman Kantor Walikota Mataram, Sabtu (27/7) malam. (Suara NTB/ist) |
Mataram (Suara NTB) -
Walikota Mataram, H. Ahyar
Abduh mengajak seluruh masyarakat kembali berpedoman kepada isi kandungan Al Qur’an.
Begitu juga pada pejabat lingkup Pemkot Mataram dalam menjalankan tugas tetap
berpedoman pada ajaran Al Qur’an.
‘’Kita harus lebih meningkatkan kecintaan
terhadap Al Qur’an. Dengan membaca Al Qur’an saja, sudah mendapat pahala.
Apalagi yang benar-benar membaca Al Qur’an, mendapat jaminan hidup bahagia
dunia akhirat dan meninggal dalam kondisi syahid,’’ terang Walikota dalam
peringatan Nuzulul Quran yang digelar di Halaman Kantor Walikota Mataram, Sabtu
(27/7) malam.
Sementara itu, dalam uraian
hikmah Nuzulul Qur’an yang disampaikan H. Husnul Khutomi, mengajak seluruh
jamaah tidak meragukan kandungan isi Al
Qur’an. Menurutnya, saat ini kaum muslimin di seluruh dunia banyak yang tidak
benar-benar membaca Al Qur’an, sehingga mereka dipaksa mengiyakan apa yang
disampaikan orang-orang yang tidak berpegang kepada Al Qur’an.
Menurutnya, terdapat tiga
kelompok manusia yang meninggalkan Al Qur’an. Kelompok pertama adalah orang mengaku
mukmin atau muslim tapi tidak mengerti Al Qur’an. ‘’Tapi golongan semacam ini
diyakini semakin berkurang karena pemerintah sudah menggalakkan membaca Al Qur’an,’’
ungkapnya.
Golongan kedua, lanjutnya,
adalah orang yang membaca Al Qur’an dengan suara yang indah tapi tidak pernah
merenungkan isi dan kandungan Al Qur’an. Serta golongan ketiga adalah orang
yang membaca Al Qur’an hanya di ujung lisannya dan tidak merenungkan isi maupun
kandungan Al Qur’an. ‘’Membaca Al Qur’an dengan benar, mempermudah kita menuju
surga,’’ ujarnya.
Melalui peringatan Nuzulul Qur’an,
ia berharap semua warga Kota Mataram dijauhkan dari golongan orang-orang yang
termasuk katagori meninggalkan Al Qur’an. ‘’Mari kita amalkan isi dan kandungan
Al Qur’an mulai dari keluarga ke keluarga kita masing-masing,’’ ujarnya.
Komentar