Roadshow Wakil Ketua DPRD Kota Mataram ke Sekolah-sekolah (1), Mustahil Sekolah Berkualitas Tanpa Partisipasi Masyarakat
DISKUSI - H. Didi Sumardi, SH., berdiskusi dengan Kepala SMKN 3 Mataram, Umar, S.Sos., MM., di ruang kerja Kepala SMKN 3 Mataram, Selasa (16/7) lalu. |
Upaya
sekolah-sekolah di Mataram menggali partisipasi masyarakat, tidak jarang
dinilai sebagai pungutan yang tidak jelas juntrungannya. Mengurai benang kusut
problem yang dihadapi dunia pendidikan, Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi
Sumardi (HDS) menggelar roadshow ke
sejumlah sekolah di Mataram. Ada enam sekolah yang dijadikan sampel. Dua SMKN,
dua SMAN dan dua SMPN serta mendengarkan pendapat Dewan Pendidikan Kota
Mataram. Rangkaian roadshow HDS ini berlangsung selama tiga hari, 16-19 Juli
2013.
SEKOLAH
pertama yang dikunjungi HDS adalah SMKN 2 Mataram. Dalam penjelasannya Kepala
SMKN 2 Mataram, Drs. Sahnan mengungkapkan, keberhasilan SMKN 2 Mataram menjadi
salah satu SMK yang berkualitas, tidak terlepas dari partisipasi masyarakat.
SMKN yang berlokasi di Jalan Pemuda itu dengan lima program keahlian, sudah
pasti membutuhkan anggaran yang tidak kecil.
Dalam
RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah) SMKN 2 Mataram membutuhkan tidak
kurang dari Rp 3 miliar. Sementara, dari kebutuhan Rp 3 miliar ini, APBD Kota
Mataram hanya sanggup ‘’menyumbang’’ sekitar 30 persen. Bosda, katanya, tidak
cukup untuk mencapai RKAS tersebut. Kondisi ini cukup berat, mengingat jumlah
siswa di SMKN 2 Mataram mencapai 1.300 siswa.
Karenanya,
menggali partisipasi masyarakat adalah solusi yang paling pas untuk menutupi
kekurangan anggaran tersebut. Namun, tidak semua siswa dapat berpatisipasi
karena sekitar 50 persen siswa SMKN 2 Mataram adalah pemegang kartu Jamkesmas.
Sesuai Perwal, siswa pemegang kartu Jamkesmas tidak boleh dipungut biaya
apapun. Dalam menggali partisipasi masyarakat yang tergolong mampu pun, pihak
SMK 2 tidak memaksa. ‘’Bahkan ada yang tahun lalu masih menunggak sampai
sekarang. Nilainya sampai Rp 200 juta,’’ sebutnya.
Kendati
demikian, Sahnan mengaku masih banyak pihak yang belum mengerti kebutuhan
sekolah secara nyata. Padahal, anggaran yang digalang dari partisipasi
masyarakat itu, digunakan untuk mencukupi kekurangan sarana dan prasarana
sekolah. Diantaranya untuk biaya praktik siswa, biaya mengikuti berbagai lomba
baik tingkat lokal maupun nasional, praktik kerja industri hingga workshop.
Sahnan
menegaskan, tidak mungkin SMKN 2 Mataram akan mampu mencapai kualitas yang baik
tanpa ditopang oleh partisipasi masyarakat. Sekolah inipun telah membuktikan
kualitasnya, dimana dari 10 besar siswa se-NTB yang meraih nilai UN tertinggi
tahun 2013 ini, enam diantaranya berasal dari SMKN 2 Mataram.
Senada
dengan SMKN 2 Mataram, SMKN 3 Mataram malah membutuhkan anggaran dua kali lipat
anggaran SMKN 2 Mataram. Sekolah dengan 13 kompetensi keahlian ini, menurut
Kepala SMKN 3 Mataram, Umar, S.Sos., MM., dalam RKASnya membutuhkan anggaran
sekitar Rp 5 - 6 miliar pertahun. Lebih parah dari SMKN 2 Mataram, SMKN 3
Mataram hanya mendapat anggaran 20 persen yang bersumber dari APBD Kota
Mataram.
Selebihnya,
sudah barang tentu sekolah berharap dari partisipasi masyarakat. Begitu banyak
bahan praktik siswa yang harus disiapkan oleh SMKN 3 Mataram. Ia mencotohkan
untuk kompetensi keahlian teknik perkayuan, untuk praktik, pihaknya harus
membeli kayu yang harganya tidak murah. Begitupula dengan kompetensi keahlian
yang lainnya. ‘’Palinng berat jurusan las dan teknik kayu. Kan tidak bisa kita
praktik pakai lidi, harus pakai kayu. Besi juga mahal,’’ sebutnya.
Dari
1.474 siswa, menurut data dari SMK 3 Mataram, sekitar 524 siswa tergolong tidak
mampu. Ini, lanjut Umar, merupakan komitmen pihaknya untuk mengakomodir siswa
pemegang kartu Jamkesmas. Bahkan ia bertekad menghilangkan image bahwa sekolah favorit hanya milik orang kaya. ‘’Siapa yang
mampu secara akademis, silahkah. Sekolah ini milik masyarakat,’’ pungkasnya.
Umar
menyebutkan, mustahil SMKN 3 Mataram bisa eksis dan mencetak alumni-alumni
terampil kalau tidak ada dukungan dari partisipasi masyarakat. Sampai saat ini,
SMKN 3 Mataram tidak memiliki anggaran pemeliharaan. Sehingga, partisipasi
masyarakat sangat penting artinya bagi peningkatan kualitas SMKN 3 Mataram.
SMKN yang sarat dengan peralatan yang membutuhkan daya listrik, memiliki daya
listrik 125.000 volt. Dengan daya sebesar itu, dana rutin yang diberikan Pemkot
Mataram melalui APBD Kota Mataram untuk membayar tagihan listrik, hanya 2 juta.
‘’Padahal, sebulan kita bayar listrik sampai Rp 20 juta,’’ sebutnya.
Belum
lagi, rasio alat praktik yang belum ideal. Di SMKN 3 Mataram, satu peralatan
masih dikeroyok oleh 5 -7 siswa. ‘’Idealnya satu banding satu,’’ cetusnya.
Selain itu, Peliknya persoalan yang dihadapi SMKN 3 Mataram, sampai-sampai Umar
mengibaratkan, mengurus 13 kompetensi keahlian sama dengan mengurus 13 sekolah.
Selain itu, SMKN 3 Mataram kini dihadapi pada persoalan kekurangan guru. ‘’Kita
sulit dapat guru dengan keahlian yang spesifik,’’ keluhnya. Sehingga, mau tidak
mau harus mengangkat guru honor. Sampai saat ini, jumlah guru honor di SMKN 3
Mataram mencapai 53 orang.
Komentar