Wawancara Khusus Pimpinan DPRD Kota Mataram (3-Habis), Tingkatkan Kapasitas SDM, Pemkot Jangan Malu Belajar ke Provinsi
I Wayan Sugiartha |
PREDIKAT
WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) memang merupakan komitmen bersama antara
eksekutif dengan legislatif. Mengapa Kota Mataram belum bisa mencapai predikat
WTP, menurut Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, I Wayan Sugiartha, lebih karena
persoalan SDM. Dalam wawancara khusus dengan Suara NTB, ia mempersilahkan Walikoat mewujudkan rencananya
membentuk lembaga baru yang nantinya akan mengelola aset.
Namun
yang terpenting untuk diperhatikan dalam hal ini adalah masalah SDM. Karena
selama ini, kata Wayan Sugiartha, yang menjadi kendala dalam mencapai WTP dan
juga diakui oleh eksekutif, memang masalah SDM yang akan fokus menangani aset
ini. Pemkot Mataram tidak mempunyai SDM yang fokus mengurus persoalan aset. Hal
ini juga pernah terungkap ketika Pansus Aset menyampaikan rekomendasinya. Bahwa
memang di Kota Mataram SDM yang secara intens menangani masalah aset, memang
masih sangat kurang.
‘’Jangan
nanti kita bentuk lembaga baru tapi SDMnya sama, sama juga bohong,’’ ucapnya. Untuk
meningkatkan kapasitas SDM yang bakal fokus mengurus masalah aset, perlu ada
pelatihan ataupun pendidikan khusus. Langkah ini dimaksudkan supaya SDM
tersebut betul-betul fokus menangani masalah aset. Ia mewanti-wanti, jangan
sampai SDM yang mengurus masalah aset nantinya, berasal dari latarbelakang
pendidikan umum.
Wayan
Sugiartha berharap, Pemkot Mataram bisa mencapai target WTP, tidak semata-mata
karena akan dibentuk lembaga atau badan, tetapi penekanannya lebih kepada
kesiapan SDM. Sementara itu, menyangkut BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) yang
juga menjadi sandungan Kota Mataram mencapai target WTP, kata dia, karena rumah
sakit yang memang baru. Dari sisi pengelolaan administrasi tentu juga masih
baru. Kendati demikian, paling tidak, ada keinginan dari eksekutif dalam hal
ini Direktur RSUD Kota Mataram untuk bagaimana memperbaiki dan meningkatkan
pelayanan dan administrasi. ‘’Malah saya sempat sarankan secara langsung kepada
direktur, bila perlu lakukan kerjasama dengan BPK,’’ pungkasnya.
Untuk
pembenahan sistem pengelolaan keuangan, ujar Wayan Sugiartha, tidak ada
salahnya Pemkot Mataram terus belajar. Kalau saran yang disampaikan kepada Direktur
RSUD Kota Mataram mau didengarkan, ia berkeyakinan ke depan administrasi BLUD tidak
lagi menjadi temuan.
Solusi
cepat yang ditawarkan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Mataram ini, adalah belajar
atau melakukan konsultasi kepada Pemprov NTB yang telah dua tahun
berturut-turut mendapatkan predikat WTP. ‘’Tidak ada salahnya kita bertanya, ndak perlu gengsi untuk ke arah yang
lebih baik,’’ tegasnya. Selain Pemprov NTB, alternatif lain untuk belajar
bagaimana mewujudkan pengelolaan keuangan daerah yang baik, bisa juga ke
kabupaten lain seperti Lombok Tengah.
Tidak
ada salahnya belajar ke Lombok Tengah maupun Pemprov untuk mengetahui dimana
kelemahan Pemkot Mataram sehingga belum bisa mendapat predikat WTP. Pada bagian
lain, Wayan Sugiartha melihat ada kesan predikat masih dianggap sebagai sebuah
nilai politis. ‘’Hal ini yang saya kurang sepakat,’’ cetusnya. Seharusnya,
apapun predikat yang diperoleh tiap daerah dari BPK, termasuk Kota Mataram
karena memang daerah bersangkutan telah memenuhi norma-norma.
‘’Jangan
hanya karena mengejar gengsi. Ya mohon maaf, kadang-kadang ada kepala daerah
yang mengejar predikat itu hanya untuk kepentingan politis,’’ ujarnya.
Seharusnya, pengelolaan keuangan harus disesuaikan dengan kebutuhan. Itu yang
lebih penting. Wayan menggarisbawahi peningkatan kapasitas SDM sebagai kunci
sukses Kota Mataram menuju predikat WTP.
Ia
meminta Pemkot Mataram secepatnya melakukan konsultasi ke Pemprov NTB sebagai
solusi jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang, eksekutif diminta mulai
merencanakan untuk mengirim SDM-SDM yang bakal ditugasi mengurus aset untuk
menimba ilmu di luar daerah. (fit/*)
Komentar