Bina Pedagang Asongan

DIPILIHNYA penyanyi jazz Indonesia, Andien sebagai duta pariwisata NTB nampaknya bakal memberikan hasil yang cukup memuaskan. Terlebih Andien telah menikmati secara langsung keindahan sejumlah objek wisata yang ada di Pulau Lombok. Seperti Pantai Tanjung Aan, Gili Trawangan, Desa Sade, Narmada dan objek wisata lainnya.

Bahkan Andien juga telah mencicipi sejumlah kuliner khas daerah ini, yang nantinya tentu akan menjadi bahan promosinya selaku duta pariwisata NTB ke seluruh penjuru nusantara. Itu baru objek wisata dan kuliner, Andien juga terkesan dengan kain tenun produksi desa wisata, yakni Desa Sade Lombok Tengah. Berbagai keunggulan ini tentu akan sangat potensial untuk dijual kepada wisatawan.

Namun, promosi berbagai keunggulan yang dimiliki daerah ini, bukan tanpa tantangan. Bahkan, jika mencermati kritik Andien mengenai sampah dan pedagang asongan, inilah salah satu faktor yang dapat menghambat menasional bahkan mendunianya pariwisata NTB. Sampah dan pedagang asongan. Kelihatannya sepele tetapi sesungguhnya sangat mengganggu. Sebab, salah satu tujuan orang berwisata, apalagi wisatawan mancanegara adalah untuk mencari ketenangan.

Sehingga dengan pemandangan sampah di objek wisata dan juga pedagang asongan yang cenderung kehadirannya mengusik ketenangan para wisatawan, membuat wisatawan tidak nyaman. Meski masalah sampah dan pedagang asongan oleh beberapa kalangan dianggap sebagai masalah yang lumrah. Sebab tidak hanya terjadi di Lombok tapi juga di tempat-tempat lain, seperti Jakarta. Tetapi kritisi yang diungkapkan Andien oleh pihak-pihak seharusnya tidak dimaknai sekadar kritisi umum, melainkan harus segera dicari solusinya.

Ditempat lain boleh saja ada sampah dan pedagang asongan, tetapi tidak di destinasi wisata yang ada di Pulau Lombok khususnya dan NTB pada umumnya. Selama ini, untuk menciptakan kondisi yang selalu bersih pada objek-objek wisata yang telah punya nama, memang kerap dilakukan. Salah satu upayanya yakni melakukan gerakan bersih-bersih pantai misalnya. Hanya saja, gerakan ini biasanya dilakukan kalau ada momen-momen tertentu saja. Seharusnya, ada tenaga yang setiap hari menjaga kebersihan objek wisata, sehingga tidak terkesan kumuh.

Sementara untuk pedagang asongan, belum ada langkah khusus yang diambil untuk menangani salah satu ‘’penyakit’’ yang membuat wisatawan ‘’alergi’’. Kecenderungan pedagang asongan yang menawarkan barang dagangannya di objek-objek sering terkesan memaksa wisatawan membeli dagangannya. Seharusnya pihak terkait, katakanlah Dinas Pariwisata, melakukan pembinaan intensif kepada para pedagang asongan, khususnya  yang berjualan di kawasan wisata.

Untuk mewujudkan wisata yang sopan dan beretika, pedagang asongan harus dirangkul sebagai salah satu pelaku wisata. Baik buruknya perilaku pedagang asongan, pasti akan mempengaruhi citra NTB sebagai salah satu tujuan wisata nusantara bahkan dunia. (*)

Komentar