Mataram (Suara NTB) –
Dinas PKP (Pertanian Kelautan dan Perikanan) Kota
Mataram melalui Bidang Kelautan dan Perikanan mengkaji potensi budidaya lobster
di sepanjang Pantai Ampenan seperti yang menjadi tuntutan nelayan pascagagalnya
proyek rumput laut yang disalurkan oleh BPBD (Badan Penanggulangan Bencana
Daerah) Kota Mataram.
Demikian dikatakan Kabid Kelautan dan Perikanan, Alwan
Basri, Sip menjawab Suara NTB di ruang kerjanya kemarin. Memang,
untuk budidaya lobster, setidaknya sudah dua kali ujicoba, selalu berhasil.
‘’Karena coba-coba, masih belum ketemu yang pas,’’ akunya. Sehingga, beberapa
waktu lalu, pihaknya pernah mengajak kelompok nelayan yang tertarik dengan
budidaya lobster untuk melakukan studi banding ke Batu Nampar dan juga Gerupuk.
Dengan studi
banding itu, nelayan mengetahui secara langsung segala hal yang berkaitan
dengan budidaya lobster. Sebab, sambung Alwan, berkembangnya budidaya lobster
baik di Batu Nampar maupun Gerupuk, sangat didukung oleh faktor kondisi pantai.
Sementara, karakteristiknya tersebut sangat jauh berbeda dengan kondisi di
Ampenan. ‘’Disana (Batu Nampar dan Gerupuk, red) karangnya masih utuh,
sedangkan di Ampenan karangnya sudah banyak yang rusak, sementara lobster ini
hidupnya di karang-karang,’’ terangnya.
Karenanya, untuk budidaya lobster dalam skala besar
seperti halnya di Batu Nampar dan Gerupuk, harus dilakukan kajian. Saat ini,
demikian Alwan, kajian dimaksud sedang berjalan. Kajian dilakukan terhadap
kelompok nelayan yang tengah melakukan pembudidayaan lobster di Ampenan. ‘’Mungkin
satu dua bulan lagi sudah panen. Kita lihat sampai Oktober untuk kajian ini,’’
imbuhnya.
Pada prinsipnya, Dinas PKP melalui bidang Kelautan dan
Perikanan, siap menggelontorkan bantuan di luar rumput laut, seperti budidaya
lobster. Namun demikian, hal ini sangat tergantu pada hasil kajian nantinya.
Meskipun pihaknya beberapa kali memberi bantuan kepada beberapa kelompok
nelayan untuk budidaya lobster. Kelompok nelayan tersebut meyakini banyak
loster di perairan Ampenan jenis udang alam.
Sehingga tahun 2012 lalu, pihaknya memberikan bantuan
KJA (Keramba Jaring Apung) untuk budidaya lobster kepada satu kelompok nelayan.
‘’Mereka mengembangkan budidaya ramah lingkungan. Tidak butuh teknologi tinggi
dan pakan yang dipakai juga bukan pakan pabrikan, cukup dengan sisa ikan yang
rusak,’’ ujarnya. (fit)
Komentar