I Wayan Sugiartha |
Mataram (Suara NTB) –
Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, I Wayan Sugiartha
mengaku kecewa dengan kualitas pekerjaan fisik pada sejumlah proyek di Mataram.
Kepada Suara NTB di Mataram, Sabtu (10/8),
ia mengungkapkan, buruknya
kualitas beberapa proyek di Mataram, ditegaskan Wayan, salah satu faktor
penyebabnya adalah proyek yang diperjualbelikan oleh pemenang tender kepada
pihak lain.
‘’Jangan-jangan yang betul-betul kerja sudah tangan
keberapa mungkin,’’ katanya. Ia mencontohkan proyek drainase dan jalan yang
belum lama selesai dikerjakan, sudah rusak. Sehingga jelas kualitasnya
diragukan. Untuk perusahaan-perusahaan yang ikut tender kemudian
mereka menang tapi kemudian dijual lagi ke pihak ketiga. Ini harus langsung
menjadi catatan dari pihak eksekutif supaya ke depan mereka tidak dilibatkan
dalam tender proyek yang ada di Mataram,’’ terangnya. Sebab dimanapun, praktik makelar proyek seperti ini, pasti
akan mengurangi kualitas pekerjaan. Bagaimana tidak, pekerjaan yang telah dimenangkan, justru diover kepada pihak lain dengan imbalan fee.
Otomatis makelar proyek tersebut, akan menghitung segala biaya yang telah
dikeluarkan. Mulai dari biaya
pendaftaran, biaya pembuatan dokumen dan sebagainya. Mau tidak mau, jelas akan
terpotong dari anggaran proyek. Sehingga, pihak yang kebagian mengerjakan proyek itu pasti akan
mengurangi kualitasnya. ‘’Kualitas pekerjaan pasti akan berkurang dengan
berkurangnya anggaran itu,’’ demikian Wayan.
Dinas PU, kata Wayan, seharusnya sudah mengetahui, mana rekanan yang benar-benar serius ikut
tender dan mau kerja dengan rekanan yang hanya bermodalkan bendera perusahaan
saja dan tidak memiliki modal finansial untuk menggarap proyek yang diminati tersebut. ‘’Inikan banyak terjadi. Satu orang punya banyak
perusahaan hanya sekadar untuk mendapatkan fee.
Mereka ini tidak betul-betul mau kerja,’’ terangnya.
Fee dalam proyek secara berjenjang, tegas Wayan merusak
tatanan kualitas pekerjaan proyek. Sebab anggaran sudah terpangkas untuk fee. Kepala dinas, dalam hal ini, harus berani menolak rekanan yang demikian. Meskipun mungkin ada oknum pejabat yang
membekingi di belakang rekanan tersebut. ‘’Jangan diiya-iyakan saja, jadinya kan seperti sekarang ini,’’ ucapnya. (fit)
Komentar