Minta Kuota Ditambah, Kebutuhan Sapi Selama Puasa Capai 10.000 Ekor

Mataram (Suara NTB) –
Tingginya permintaan daging sapi diperkirakan akan mencapai puncaknya pada H-1 lebaran Idul Fitri. Bahkan, kebutuhan sapi saat lebaran nanti diperkirakan antara 700 – 800 ekor. ‘’Jadi yang disembelih pada lebaran nanti antara 700 – 800 ekor,’’ sebut Kepala Dinas PKP (Pertanian, Kelautan dan Perikanan) Kota Mataram, Lalu Mazhuriadi kepada Suara NTB kemarin.

Sementara, selama bulan ramadhan ini, permintaan daging sapi mencapai 10.000 ekor. Karenanya, untuk mengantisipasi kekurangan stok daging sapi di Mataram, pihaknya, demikian Mazhuriadi telah bersurat kepada Dinas Peternakan Provinsi NTB. ‘’Kita bersurat supaya kuota pengiriman sapi dari Pulau Sumbawa diperbesar supaya peluang pejagal-pejagal kita juga lebih besar,’’ terangnya. Lagipula dari segi harga, sapi-sapi dari Pulau Sumbawa terbilang lebih murah dibandingkan dengan sapi dari Lombok.

Sebab, jika mengandalkan stok sapi dari dalam Pulau Lombok saja, jelas tidak akan mencukupi. Apalagi di Kota Mataram sendiri, populasi sapi sekitar 3.000 ekor yang juga telah dikonsumsi untuk kebutuhan selama ramadhan. Ia berharap, langkah antisipasi ini mampu memenuhi kebutuhan selama bulan puasa dan lebaran nanti.

Selama ini, kecenderungan meroketnya harga daging sapi karena tidak sebandingnya jumlah pemasok dengan konsumen yang ada. Saat ini harga daging sapi di pasaran berkisar antara Rp 75-80 ribu per kilogram. ‘’Tapi saat lebaran nanti harganya pasti naik, itu sudah biasa,’’ cetusnya. Selain meminta tambahan kuota pengiriman sapi dari Pulau Sumbawa,  Dinas PKP telah memikirkan subtitusi daging sapi dengan daging ayam.

Sehingga, pihaknya, kata Mazhuriadi memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya bagi pengusaha ayam yang ada di Lombok dan pengusaha dari Bali. Khusus untuk mengamankan kualitas daging sapi yang akan dikonsumsi saat lebaran nanti, pada H-2 dan H-1 pihaknya akan turun ke lapangan untuk melakukan pengawasan kesehatan hewan maupun tempat pemotogan.

Terkait tempat pemotongan, Mazhuriadi tidak menampik kalau masih ada praktik-praktik pemotongan gelap, seperti yang berlangsung di Gubuk Mamben. (fit)

Komentar