I wayan Sugiartha |
PEMKOT
Mataram nampaknya sulit bisa mandiri. Hal ini terlihat dari postur anggaran
Pemkot Mataram yang hingga saat ini belum ideal. Wakil Ketua DPRD Kota Mataram,
I Wayan Sugiartha yang ditemui Suara NTB
usai menerima kunjungan kerja legislatif dan eksekutif dari Kabupaten Jepara,
Senin (16/9) kemarin, menyatakan, Pemkot Mataram masih bergantung kepada
pemerintah pusat.
Bahkan
ketergantungan itu, masih sangat tinggi. Bayangkan, dari sekitar Rp 1 triliun
lebih APBD Perubahan Kota Mataram tahun anggaran 2013, PAD Kota Mataram hanya
Rp 117 miliar atau sekitar 10 persennya. ‘’90 persen dari pusat,’’ cetusnya. Katanya,
tingginya ketergantungan Pemkot Mataram terhadap anggaran pusat, disebabkan
besarnya anggaran yang tersedot untuk belanja pegawai.
Dari
DAU (Dana Alokasi Umum) yang diterima Kota Mataram, 90 persen memang
dipergunakan untuk membayar gaji pegawai. Pemerintah pusat menilai, persentase
kenaikan alokasi DAU Kota Mataram, tidak sesuai dengan persentase kenaikan gaji
pegawai. Belum lagi untuk membayar gaji pegawai-pegawai yang baru. ‘’Untung
saja tahun ini Kota Mataram ndak
dapat jatah penerimaan CPNS,’’ ujarnya.
Karenanya,
Wayan mewanti-wanti pihak eksekutif supaya ekstra hati-hati ketika memutuskan
menambah struktur organisasi yang baru. Ini menyusul keinginan Pemkot Mataram
membentuk badan Keuangan dan Aset Daerah sebagai akibat penilaian pengelolaan
keuangan dan aset daerah Kota Mataram yang tidak kunjung lepas dari opini WDP
(Wajar Dengan Pengecualian).
‘’Jangan
sampai sudah menjadi badan, ternyata ABBD kita ndak mampu,’’ imbuhnya. Menurut politisi PDI Perjuangan ini, postur
APBD Kota Mataram, masih jauh dari kata ideal. Pasalnya, APBD dikatakan sehat
manakala belanja langsung lebih besar. Sementara di Kota Mataram, postur
anggaran masih berpihak pada pos belanja tidak langsung.
Meski
PAD Kota Mataram telah menunjukkan tren peningkatan, tetap saja, Pemkot Mataram
tidak bisa melepaskan diri dari uluran tangan pemerintah pusat. Untuk membiayai
seluruh kegiatan di Kota Mataram, jelas tidak bisa hanya mengandalkan PAD.
Sehingga, pihaknya pun mendorong SKPD untuk melakukan lobi-lobi anggaran ke
pemerintah pusat.
Menurut
Wayan, fenomena ketergantungan pada bantuan pemerintah pusat, tidak saja
terjadi di Kota Mataram, tetapi juga di daerah-daerah lainnya. Bahkan daerah
yang memiliki PAD jauh lebih besar dari Matarampun, tetap bergantung pada
pemerintah pusat. ‘’Namanya kota berkembang , tentu kebutuhannya terus
bertambah,’’ tandasnya. (fit)
Komentar