Mungkin
ada benarnya, apa yang dungkapkan kalangan akademisi terkait keberadaan MCC
(Mataram Craft Center). Salah satu aset milik Pemkot Mataram tersebut dituding
simbolitas semata. Hajat awal dibangunnya pusat penjualan emas, mutiara dan
perak sebagai ikon Kota Mataram, rupanya gagal terwujud.
HAL
ini terbukti, tidak saja minim pemanfaatan yang semestinya untuk berjualan
emas, mutiara dan perak, kini aset Kota Mataram yang berlokasi di simpang empat
Pagesangan, justru sudah ada yang beralih fungsi menjadi lembaga pendidikan
anak usia dini. Mungkin saja praktik alih fungsi MCC ini tidak diketahui oleh
Pemkot Mataram. Wajar kalau Pemkot Mataram tidak mengetahui hal itu. Pasalnya,
selama ini SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang diberi amanah mengurus dan
mengelola MCC, belum maksimal melaksanakan perannya. Ibarat orang sakit, MCC
tentu akan makin parah ketika tidak dirawat bahkan ''diobati''. Tidak keliru
jika Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati, S.Sos., menyebut
kondisi MCC sekarang ini, hidup segan mati tak mau.
MCC
tidak akan mampu menjadi wadah promosi produk-produk unggulan Kota Mataram
sepanjang tidak dikelola dengan baik. Yang lebih memprihatinkan, setelah
kondisinya rusak parah, MCC seolah tak bertuan. Dua SKPD, yakni Dispenda dan
Diskoperindag yang disebut-sebut diberi amanah mengelola MCC, justru tak nampak
mengambil upaya nyata menghidupkan kembali aset Kota Mataram yang
pembangunannya konon menelan anggaran Rp 50 miliar. Alih-alih ada langkah
konkret, SKPD pimpinan Syakirin Hukmi dan Wartan ini, justru ''berseteru''.
Keduanya berlomba-lomba ''menolak'' mengakui sebagai dinas yang bertanggung
jawab atas pengelolaan MCC. Dispenda mengkalim, pengelolaan MCC berikut semua
pasar di Mataram telah diserahkan kepada Diskoperindag. Sementara
Diskoperindag, kecuali pasar, membantah sebagai pihak yang mengelola MCC.
Ketua
Komisi II DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati, S.Sos., sempat mempertanyakan
nasib MCC dalam pemandangan fraksinya. Tidak hanya MCC tapi juga MWP (Mataram
Water Park). Katanya, mengapa PDIP mempertanyakan hal itu, supaya Pemkot
Mataram sadar, sudah banyak uang daerah yang terbuang sia-sia untuk pembangunan
aset Kota Mataram yang ujung-ujungnya mubazir dan tidak termanfaatkan secara
optimal. ‘’Itu yang besar-besar saja kita ungkap, kemungkinan juga masih ada
yang lain,’’ tandasnya. (fit)
Komentar