Kusir Protes Usul Penghapusan Cidomo, Rute Cidomo akan Dikaji Ulang

Cidomo di Mataram masih dipertahankan sebagai alat angkutan tradisional. Tidak hanya itu cidomo juga merupakan warisan nenek moyang yang meski dijaga dan dilestarikan keberadaannnya. Akan tetapi, keberadaan cidomo mulai dipermasalahkan. Kalangan Dewan menilai keberadaan cidomo mengganggu kenyaman dan kebersihan tata kota.

APA yang disuarakan oleh anggota Komisi III DPRD Kota Mataram, Ahmad Tauhid, SHI., yang mengusulkan penghapusan cidomo karena dianggap kerap mengotori jalan dengan kotoran yang tercecer, dan menggantikannya cidomo dengan bentor (becak motor, red), tidak semudah yang diucapkan. Pernyataan politisi PKS itu justru langsung menuai protes. Terutama dari kalangan kusir cidomo.

Muhsan salah seorang kusir cidomo, ketika dikonfimasi, Selasa (3/9) di sela-sela menunggu penumpang di Pasar Ampenan mengaku, menggantungkan hidup dari hasil menarik cidomo setiap harinya. Bapak tiga anak ini menilai cidomo merupakan warisan nenek moyang yang harus dilestarikan dan tetap dijaga keberadaannya. Apabila cidomo dihapuskan, pemerintah harus menjamin keberlangsungan hidup para pemilik cidomo yang ada di Kota Mataram.

Pasalnya dari hasil menarik cidomo setiap hari para kusir cidomo, bisa menyekolahkan anak-anaknya dan memenuhi kebutuhan ekonomi setiap harinya. Terkait masalah kotoran kuda yang menjadi permasalahan, ia mengaku bahwa tergantung dari pemilik cidomo untuk mengatur dan bahkan para pemilik cidomo telah berupaya agar tidak ada kotoran kuda jatuh di badan jalan dan tidak membuat jalan kotor. “ Kita sudah berupaya optimal, tetapi kan kudanya biasa nendang kotorannya sendiri,akunya.

Muhsan mengeluhkan, sejak banyaknya motor dan alat transportasi lainnya, seperti ojek dan angkutan mobil lainnya, penghasilan setiap harinya penumpang sepi dan berdampak pada pendapatan perharinya. Ia juga menambahkan setiap hari hanya mengandalkan penumpang dari pasar.

Hal senada juga dikatakan Zulkipli, keinginan kalangan Dewan untuk menghapus cidomo telah disuarakan sejak lama. Zul mengaku, tidak ada mata pencarian yang dilakukan apabila pemerintah memaksa menghapus cidomo beroperasi di Mataram. Sulitnya lapangan pekerjaan dan tingginya biaya hidup harus diperhatikan oleh pemangku kebijakaan. “ Tahu sendiri lapangan pekerjaan sekarang sulit, terus mau makan apa kita di rumah,” keluhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Angkutan Darat pada Dishubkominfo Kota Mataram, Mahfuddin Noor mengatakan, cidomo termasuk angkutan yang ada regulasinya. Dimana dalam UU, diatur dua jenis angkutan, yakni kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor. Di Mataram, cidomo tetap dipertahankan menjadi alat angkutan umum tradisional. Mengenai limbah dari kotoran kuda, diakui Mahfuddin sebagai tantangan tersendiri.

Padahal, setiap tahun Dsihubkominfo, kata dia, tetap melakukan pembinaan. Karenanya, ke depan pihaknya akan mengkaji kembali rute yang boleh dilalui oleh cidomo. ‘’Sehingga manakala ada kotoran, tidak terlalu nampak, terutama di jalur-jalur protokol yang memang dari awal mereka tidak masuk. Nanti kita set mereka dari pasar ke lingkungan-lingkungan terdekat,’’ terangnya.

Ia membantah dikatakan membatasi jalur cidomo untuk tujuan menghapus cidomo secara alamiah dari Kota Mataram. ‘’Bukan kita batasi tapi kita atur trayeknya supaya tidak masuk ke jalur-jalur penting,’’ cetusnya. Setiap tahun, surat izin mengemudi tetap diberikan. STNKTB (Surat Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor). Mahfuddin menyebutkan, data terakhir dari Dishubkominfo bahwa jumlah cidomo yang beroperasi di Mataram mencapai 500 unit lebih. Padahal, tahun lalu, jumlahnya sekitar 700 cidomo.

Dikatakan Mahmufin, setiap tahun operasional cidomo menunjukkan trend makin berkurang, meski diklaim tidak terlalu signifikan. Berkurangnya cidomo ini, lanjut dia, karena pengaturan trayek. ‘’Berkurangnya ini dia alamiah. Kalau dulu rutenya rumah-pasar,’’ sebutnya. Tapi sekarang dengan adanya ojek, berimbas pada penurunan jumlah penumpang cidomo.

Sekarang cidomo banyak ngetem di pasar-pasar sehingga kerap menimbulkan kemacetan lalu lintas. Seperti di Pasar Sindu, Pasar Kebon Roek. ‘’Kehilangan penumpang, banyak masyarakat memilih moda angkutan yang lain,’’ imbuhnya. (cem/fit)

Komentar