Dewan Minta Kesejahteraan Karyawan RSUD Kota Mataram Diperhatikan

Mataram (Suara NTB) –
Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram, Yeyen Seprian Rachmat, SE., MSi., meminta pihak RSUD Kota Mataram memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Hal ini menyusul mencuatnya kabar kalau sejumlah karyawan rumah sakit kelas B tersebut belum menerima pembayaran jasa pelayanan medis sejak Bulan Oktober 2012 lalu.

Menurut Yeyen, masalah insentif, baik bentuknya gaji maupun jasa pelayanan medis sangat sensitif. Karena itu, menyangkut kesejahteraan dan kenyamanan karyawan dalam bekerja. ‘’Ketika mereka memberikan jasa, tentu harus dibayar,’’ cetusnya menjawab Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Selasa (8/10). Ia meminta, masalah kesejahteraan karyawan harus menjadi perhatian utama. Bagaimanapun, insentif yang diterima seorang karyawan sangat berpengaruh terhadap kualitas kerja. Dengan kata lain, besar kecilnya insentif berkorelasi pada kualitas kerja.

‘’Semakin kecil insentif yang dia (karyawan, red) terima, kualitas kerjapun yang bisa kita harapkan minim,’’ terang Yeyen. Sebaliknya, semakin besar insentif, diharapkan kualitas kerja karyawan bersangkutan semakin optimal. ‘’Ada yang sebenarnya punya kapasitas tapi insentifnya sedikit, tidak akan mau mengoptimalkan kapasitasnya,’’ ujarnya. Dengan kapasitas RSUD Kota Mataram yang telah berstatus BLUD, seharusnya masalah insentif karyawan harus diperhatikan. Insentif tersebut bahkan harus menjadi poin pertama karena karyawan dituntut bekerja profesional.

Dikatakan politisi Partai Hanura ini, fungsi utama rumah sakit adalah pelayanan. Dalam melayani tentu dibutuhkan profesionalitas dari staf yang ada di rumah sakit. Ini membutuhkan SDM yang memiliki kapasitas di bidangnya. Karena, pengelolaan RSUD Kota Mataram sudah mengarah pada model pengelolaan rumah sakit swasta. Meskipun tidak mengejar keuntungan layaknya rumah sakit swasta, tetapi paling tidak pelayanan mentransformasi nilai-nilai pelayanan di rumah sakit swasta.

Ia sepakat kalau RSUD Kota Mataram sebaiknya jangan hanya kelihatan hebat dari luar tetapi sesungguhnya kropos di dalam. Salah satunya, sambung Yeyen, terkait kualitas pelayanan. Masyarakat yang diberikan kulitas pelayanan yang nyaman, diyakini bisa mengurangi beban yang dialami karena dalam kondisi sakit. Semboyan Smile (senyum) yang diterapkan RSUD Kota Mataram memang cukup baik, tetapi hendaknya hal itu ditindaklanjuti. Namun Yeyen juga menyadari, para karyawan RSUD Kota Mataram akan sulit diharapkan melayani masyarakat sepenuh hati, terlebih dengan senyum ketika hak-hak mereka belum terpenuhi dalam hal ini jasa pelayanan medis.

Yeyen menyarankan kepada RSUD Kota Mataram untuk meningkatkan nominal jasa pelayanan medis. Hal itu, katanya bisa memacu semangat karyawan dalam bekerja. Seharusnya ketika mulau bekerja, setiap karyawan memiliki kontrak dan mereka mengetahui apa yang menjadi hak-haknya. (fit)

Komentar