Pemkot Mataram Kurang Peka

PEMANDANGAN jembatan bambu di Lingkungan Petemon Kelurahan Pagutan cukup miris. Bagaimana tidak, di Mataram yang notabene ibukota provinsi, ternyata masih ada jembatan yang terbuat dari bambu. Apalagi menurut pengakuan warga setempat bahwa kondisi itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Warga juga sempat menyampaikan keinginan mereka memiliki jembatan permanen melalui kepala lingkungan setempat.

Sayangnya hingga saat ini mimpi punya jembatan permanen tak kunjung terwujud. Penilaian kalangan DPRD Kota Mataram yang mengindikasikan ''abadinya'' jembatan bambu itu sebagai bentuk kurang pekanya Pemkot Mataram terhadap kebutuhan masyarakat. Keberadaan jembatan permanen di sana sangat dibutuhkan masyarakat untuk mengangkut hasil pertaniannya. Karena selama ini, dengan tidak adanya jembatan permanen, masyarakat petani di lingkungan setempat terpaksa harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengangkut hasil pertaniannya.

Kalau alasan ketidaktahuan akan jembatan bambu itu, sulit diterima karena dari laporan warga ke pihak lingkungan sudah diteruskan ke kelurahan. Terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang sifatnya mendesak, seharusnya ada skala prioritas. Termasuk kasus jembatan bambu itu harusnya menjadi prioritas untuk segera dibangun. Dewan dalam hal ini harus mendorong eksekutif untuk secepatnya merespon keinginan masyarakat. Jangan sampai setelah eksekutif mengetahui ada pemandangan bambu di wilayah Kota Mataram tetapi masih berpangku tangan.

Paling tidak, jembatan bambu itu menjadi jembatan permanen pada tahun anggaran 2014. Artinya, dalam APBD murni 2014 hal itu harus menjadi prioritas. Cara lain untuk membantu masyarakat setempat adalah dengan membangun jembatan permanen lewat jalur dana aspirasi. Akan menjadi aneh sekaligus lucu, ketika Dewan berbicara soal infrastruktur sementara mereka juga tak tergugah menggunakan dana aspirasinya untuk membangun jembatan itu.

Padahal, kalau dihitung, tercatat ada 12 anggota DPRD Kota Mataram yang berasal dari daerah pemilihan (dapil) Mataram. Tetapi ironisnya, belum satu orangpun yang tergerak hatinya membantu masyarakat membangun jembatan permanen dari dana aspirasinya. Jangan sampai jembatan bambu ini menjadi komoditi politik mengingat sekarang ini merupakan tahun politik. Demikian sebaliknya, anggota Dewan yang notabene diluar dapil dimana jembatan itu berada, juga harus memperjuangkan agar jembatan itu dipermanenkan. Jangan sampai karena merasa bukan dapilnya lantas pura-pura tidak tahu bahkan enggan memperjuangkannya. Apapun dalihnya, kepentingan masyarakat harus dipenuhi. (*)

Komentar