Mengurai Benang Kusut Pelayanan Kesehatan di Kota Mataram
KELUHAN warga miskin
pemegang kartu Jamkesmas, Jamkesda dan KMS terus bergulir. Ketidakberpihakan
RSUD Kota Mataram dan kesan terabaikan selalu menyertai aduan pasien miskin. Menindaklanjuti
ketidakberdayaan warga miskin itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram, Nyayu
Ernawati, S.Sos., Sabtu (26/10) rela menyusuri lorong-lorong sempit guna
bertemu langsung dengan pasien miskin. Dalam kesempatan itu, Nyayu menyampaikan
permintaan maaf atas nama pemerintah kepada pasien yang merasa tidak dilayani
dengan baik.
Sedikitnya ada lima pasien
miskin yang menjadi ‘’korban’’ ketidakberpihakan RSUD Kota Mataram dikunjungi
Ketua Komisi II. Roadshow politisi
PDI Perjuangan Kota Mataram ini diawali dari kediaman Sairi (26), warga
Lingkungan Sayang Daye Kelurahan Sayang-Sayang Kecamatan Cakranegara Kota
Mataram. Buruh cukli ini bercerita, sudah tiga kali ia dijanjikan oleh pihak
RSUD Kota Mataram untuk segera dioperasi benjolan di perut bagian kirinya.
‘’Pertama
dijanjikan tanggal 8 Oktober, kedua tanggal 21 Oktober dan terakhir dijanjikan
tanggal 7 November. Karena tidak tahan sakitnya, akhirnya saya berobat di
dokter umum dengan biaya Rp 130 ribu,’’ keluh pemegang kartu Jamkesmas ini.
Sairi mengaku sangat kecewa dengan pelayanan RSUD Kota Mataram. Pasalnya,
akibat diundurnya waktu operasi, ia terpaksa absen bekerja sekitar seminggu
yang berdampak pada nihilnya penghasilan yang ia dapat untuk menghidupi
keluarganya. Bahkan, ketika meminta pelayanan di RSUD Kota Mataram ia terpaksa
harus merogoh kocek dalam-dalam untuk ongkos ojek ke RSUD Kota Mataram
Nasib yang tak
kalah malangnya dialami tiga warga Sayang Daye lainnya, masing-masing Ika
Purnamasari, Nurul Huda dan Rohani. Ketiga pemegang KMS (Kartu Mataram Sehat)
ini. Jika Ika Purnamasari dijanjikan bakal dioperasi Senin (28/10) karena
menderita daging tumbuh di ketiaknya, tidak demikian halnya dengan Nurul Huda
dan Rohani. Nurul Huda oleh petugas RSUD yang menerimanya saat itu diminta
membayar kalau memang ingin dilakukan tindakan operasi. RSUD Kota Mataram
berdalih kalau operasi yang akan dijalani Nurul Huda tidak sampai dilakukan
rawat inap. ‘’O...kalau harus membayar, lebih baik saya mundur,’’ ujar Nurul
Huda mengutip ucapannya saat itu.
Rohani, ibu tiga
orang anak, penderita gondok juga mengaku sangat kecewa dengan RSUD Kota
Mataram. Ia ditolak operasi dengan alasan yang cukup janggal. Petugas RSUD Kota
Mataram yang menerimanya saat itu berdalih tak bisa mengambil tindakan operasi
karena tidak ada perintah dari atasannya. ‘’Siapa yang tanggung jawab kalau
side masuk ICU,’’ katanya meniru ucapan petugas kepadanya.
Ia menyayangkan
ucapan petugas yang belum menangananinya lalu memprediksinya masuk ICU
pasca-operasi. ‘’Sampai habis modal jualan saya untuk bolak-balik ke rumah
sakit,’’ keluhnya. Setelah merekam dan mendengarkan keluhan warga Sayang Daye,
Nyayu melanjutkan roadshow ke
Lingkungan Kekalik Kijang. Ia bertemu langsung dengan H. Hasan Zasali, pasien
Jamkesmas yang akhirnya diberikan kamar oleh pihak RSUD Kota Mataram setelah
diekspose media.
Penderita hernia
ini, mengaku dipersulit mendapat pelayanan kesehatan, meskipun telah
mengantongi Kartu Jamkesmas. Ia mengaku terbantu setelah persoalan ini mencuat
di media. ‘’Bapak saya dijanjikan operasi hari Senin (28/10),’’ aku anak H.
Hasan Zasali yang juga salah seorang kader Posyandu di Kota Mataram.
Melihat kondisi
di lapangan, Nyayu meragukan kenaikan kelas RSUD Kota Mataram dari klas C
menjadi kelas B, bakal dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan,
terutama kepada warga pemegang Jamkesmas, Jamkesda maupun KMS. Sebab, janji
pihak eksekutif akan menjadikan kelas II menjadi kelas III, manakala kelas III
memang penuh. Kalau kelas II masih penuh juga maka bisa dilayani diinapkan di
Puskesmas dengan pelayanan dari RSUD Kota Mataram. Sayangnya, pada tataran
penerapan RSUD Kota Mataram terkesan tidak transparan terkait ketersediaan
kamar kelas II. ‘’Kenaikan tipe
rumah sakit harus dibarengi dengan makin baiknya pelayanan kepada masyarakat, terutama
masyarakat miskin. Jangan hanya janji,’’ pintanya.
Menurut Nyayu, roadshow yang
dilakukannya bertujuan mencari solusi terhadap apa yang menjadi aduan
masyarakat. Sebagai pelayan masyarakat, sudah sepatutnya pihak-pihak terkait,
memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Terutama masyarakat miskin.
‘’Karena RSUD Kota Mataram adalah milik pemerintah, sudah sepatutnya RSUD
memberikan pelayanan yang maksimal. Karena, berapapun anggaran yang diminta
RSUD untuk menangani masyarakat miskin, pasti disetujui DPRD,’’ katanya.
Sehingga, apa yang diniatkan dan dijanjikan pemerintah untuk membantu
masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, benar-benar bisa
terlaksana dengan baik. Jangan sampai karena proses yang panjang, susah dan
berliku-liku, membuat masyarakat miskin terpaksa pinjam uang kanan kiri untuk
berobat karena sudah tidak mampu menahan sakitnya. ‘’Saya tidak mau di Mataram
ini ada kata-kata orang miskin dilarang sakit, karena anggaran untuk mereka
sudah ada,’’ tandasnya.
Ia berharap, Pemkot Mataram tidak sebatas melakukan pencitraan semata,
melainkan benar-benar dilaksanakan. Ia juga berharap niat Sekda Kota Mataram
untuk mendatangi masyarakat guna mencari kebenaran atas apa yang dialami
masyarakat agar segera dilaksanakan. ‘’Supaya mendengar langsung keluhan
masyarakat, tidak hanya mendengar laporan dari staf dan jika hal ini benar
dilakukan, kami apresiasi,’’ imbuhnya.
Sementara itu,
Sekda Kota Mataram Ir. HL. Makmur Said, MM., yang dikonfirmasi terpisah
berjanji akan mengecek pasien-pasien yang diduga menjadi ‘’korban’’ janji
petugas medis. (fit/*)
Komentar