Tak dapat Bagian

Warga Tuding Daging Kurban Banyak Dinikmati Pegawai Pemkot

Mataram (Suara NTB) –
Emosi puluhan warga yang mengaku berasal dari Kelurahan Gomong, Mataram, pecah setelah mengetahui dirinya tidak mendapatkan jatah daging hewan kurban yang dibagikan di Halaman Kantor Walikota Mataram, Selasa (15/10) siang kemarin. Mereka berteriak sejadi-jadinya dan menuding kalau jatah daging hewan kurban banyak dinikmati kalangan PNS Pemkot Mataram yang notabene kurang pantas.

‘’Ini banyak diambil pegawai. Kami ini yang seharusnya dapat, kami masyarakat tidak mampu,’’ teriak beberapa warga. Pantauan Suara NTB, puluhan warga ini tertahan di pintu masuk halaman Kantor Walikota Mataram lantaran tidak memiliki kupon. Namun demikian, menurut penjelasan Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Mataram, Drs. Cukup Wibowo, MMPd., sebelumnya, bahwa ada sekitar 400 kantong daging hewan kurban yang akan dibagikan kepada masyarakat di Halaman Kantor Walikota Mataram.

Dari 400 kupon ini, memang ada juga cadangan untuk masyarakat yang tidak memiliki kupon. Rupanya, cadangan inilah membuat masyarakat yang tidak punya kupon itu berharap pula mendapatkan jatah daging hewan kurban. Petugas Satpol PP mengawal ketat jalannya pembagian daging hewan kurban oleh panitia Hari Raya Idul Adha. Dengan menggunakan truk Satpol PP, daging yang dikemas dalam kresek berukuran tanggung, dibagikan kepada masyarakat yang memiliki kupon.

Namun, tidak sedikit pegawai Pemkot Mataram yang terlihat menenteng daging hewan kurban. Hal inilah yang nampaknya menyulut kecemburuan sosial di kalangan warga yang tidak memiliki kupon. Imah, salah seorang Warga Gomong yang tidak kebagian jatah daging hewan kurban mempertanyakan mengapa pegawai Pemkot justru mendapat kupon, sementara warga miskin sepertinya justru dibiarkan menjadi penonton.

Akhirnya beberapa warga yang tidak kebagian daging hewan kurban, nekat mendekati jagal yang tengah membersihkan usus sapi di halaman tersebut dan merebutnya. Warga yang sama sekali tidak mendapat bagian daging hewan kurban dengan perasaan kecewa seraya membanding-bandingkan pemerintahan di era mendiang H. Moh. Ruslan. ‘’Kalau zaman haji Ruslan, kami ini selalu diperhatikan,’’ cetus warga kesal. (fit)

Komentar