MASIH
adanya jual beli miras (minuman keras) di eks Pelabuhan Ampenan dan sejumlah
tempat lainnya diKota Mataram mengundang keprihatinan. Terlebih adanya
pengakuan dari penjual miras yang dagangannya disita Satpol PP baru-baru ini
mengungkapkan bahwa miras itu adalah mata pencaharian untuk menghidupi
keluarganya.
‘’Di
Kota Mataram yang visinya maju, religius dan berbudaya, maka keliru kalau
menjadikan Mataram sebagai tempat untuk membisniskan atau menghidupi keluarga
dengan miras,’’ terang anggota Komisi I DPRD Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman
kepada Suara NTB di ruang kerjanya,
Rabu (4/12) kemarin. Seharusnya, semua kalangan masyarakat menghormati apa yang
menjadi visi Kota Mataram.
Untuk
mewujudkan visi religius Kota Mataram secara faktual, sambung Mujiburrahman,
dibutuhkan dukungan dari semua pihak. Oleh karena itu, eksekutif dalam hal ini
Walikota dan Wakil Walikota Mataram berikut jajarannya harus bahu membahu
meningkatkan koordinasi berbagai pihak untuk mengatasi hal-hal yang bersifat
konsumsi maupun peredaran miras.
Politisi
Partai Golkar ini mengakui sebetulnya kalangan legislatif telah mengajukan
raperda soal pengendalian peredaran miras. Sayangnya, raperda itu masih perlu
penyempurnaan lantaran ada beberapa bagian yang bertentangan dengan aturan yang
lebih tinggi. Namun demikian, Mujiburrahman menegaskan, meski raperda miras it
sedang berproses, bukan halangan bagi Pemkot Mataram untuk menekan peredaran
miras.
Bisa
saja Pemkot Mataram menggunakan instrumen lain. ‘’Bisa saja menggunakan
jalur-jalur lain seperti peraturan Walikota atau secara sosial terus
meningkatkan komunikasi,’’ imbuhnya. Terutama dengan pihak-pihak yang berkaitan
langsung dengan hal tersebut. Mujiburrahman optimis, dengan pendekatan
persuasif dari hati ke hati masyarakat yang menjadikan miras sebagai mata
pencaharian, bisa mengerti.
Disamping
itu, Pemkot Mataram juga perlu memikirkan solusi bagi warga yang menggantungkan
hidupnya dari miras. ‘’Mata pencaharian yang halal dan tidak bertentangan
dengan visi Kota Mataram,’’ pungkasnya. Mujiburrahman khawatir peredaran miras
yang sudah sampai ke lini paling bawah, menjadi konsumsi publik di luar
Mataram.
‘’Apa
kata orang, baru mendarat di Kota Mataram atau belum datang ke sini (Mataram,
red) sudah membaca visinya maju, religius dan berbudaya tapi kenyataan yang
sangat bertentangan dengan visi religius itu,’’ tandasnya. (fit)
Komentar