Kunker Tak Relevan


KEBERANGKATAN puluhan anggota DPRD Kota Mataram melakukan Kunker (kunjungan kerja) ke luar daerah, cukup mengejutkan. Pasalnya, masa jabatan 35 anggota DPRD Kota Mataram periode 2009-2014 ini bakal segera berakhir sekitar dua bulan lagi. Keputusan anggota DPRD Kota Mataram yang melakukan kunker komisi ke Jakarta, Bekasi dan Yogyakarta itu menimbulkan penilaian negatif dari masyarakat.

Kunker yang dilaksanakan dua bulan menjelang berakhirnya masa jabatan para wakil rakyat Lingkar Selatan itu dinilai tidak relevan lagi. Kalaupun ada hasil atau ilmu yang didapatkan dari kunker yang berlangsung selama lima hari itu, tidak sedikit kalangan yang meragukan bahwa hasilnya bisa diimplementasikan di Kota Mataram. Bagaimana tidak, selain tidak didampingi eksekutif dalam kunker itu, sepulang dari kunker itupun mereka sudah ditunggu oleh pembahasan APBD Perubahan Kota Mataram.

Lalu kapan dan bagaimana tiga komisi itu akan mendesak eksekutif misalnya menerapkan hal-hal positif yang didapatnya selama kunker ke tiga daerah berbeda. Memang, kunjungan kerja komisi-komisi itu merupakan kunjungan terakhir. Namun ada kesan aji mumpung bahkan penilaian Dewan tidak peka dengan kondisi masyarakat yang masih banyak hidup dalam ekonomi yang serba kekurangan.

Sementara di sisi lain, para anggota Dewan tanpa sungkan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan kunker. Masyarakatpun sebetulnya tidak mempersoalkan kunker itu. Sepanjang bisa meningkatkan kapasitas anggota Dewan dan yang terpenting hasilnya bisa diterapkan di Kota Mataram. Sebab, percuma saja Dewan melakukan kunker kalau toh hasilnya hanya sekadar menjadi ‘’buku saku’’ tanpa implementasi yang jelas.

Selama ini, kunker yang dilakukan anggota Dewan justru sarat kesan ‘’jalan-jalan’’ ketimbang benar-benar serius ingin mendapat ilmu dari daerah yang dikunjunginya. Tatap muka atau dialog dengan Pemda atau Dewan dari daerah yang dikunjunginya berlangsung sekitar 1 sampai 2 jam. Selebihnya, banyak yang memanfaatkannya untuk jalan-jalan mencari oleh-oleh untuk keluarganya.

Memang tidak semua anggota Dewan ikut dalam kunker tersebut. Tetapi rasio antara Dewan yang tidak berangkat dengan yang doyan kunker sangat jauh berbeda. Sebab, yang tidak berangkat kunker hanya beberapa orang saja. Mental wakil rakyat kita yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, cukup memprihatinkan. Meskipun misalnya sudah diagendakan oleh Badan Musyawarah, bukan tidak mungkin agenda kunker itu dibatalkan.

Sayangnya, sangat jarang sekali Dewan di seluruh Indonesia membatalkan kunker. Sebaliknya, mereka akan memanfaatkan jadwal semaksimal mungkin untuk melaksanakan kunker tersebut. Kini masyarakat hanya bisa menunggu hasil nyata dari kunker yang menyedot anggaran daerah tersebut. (*)

Komentar