PENGHITUNGAN
royalti Mataram Mall mulai menuai kritikan dari kalangan DPRD Kota Mataram. Pasalnya,
dari awal, Dewanlah yang menginisiasi perhitungan royalti Mataram Mall. Bahkan
Komisi II DPRD Kota Mataram kala itu diundang Sekda Kota Mataram, Ir. HL.
Makmur Said, MM., untuk terkait tim apprisal
yang bakal melakukan penghitungan nilai royalti Mataram Mall yang pantas
disetor ke daerah.
Belakangan,
sampai saat ini, Dewan tidak lagi dilibatkan dalam pembahasan tersebut. Malah
Dewan terkesan ‘’ditinggal’’. Karena setelah mendapatkan hasil perhitungan tim
apprisal pun, Dewan belum pernah dilibatkan dalam pembahasan lanjutan. Seperti
diketahui, sampai saat ini, baru pihak mall yang menerima surat hasil
perhitungan royalti itu dan disusul dengan pertemuan Pemkot Mataram dengan
pihak mall.
‘’Kesepakatan
tiga pilar (Pemkot, Dewan, Tim Apprisal) ini harus dilaksanakan harus ada
komitmen sampai akhir,’’ ujar anggota Komisi II DPRD Kota Mataram, Misban
Ratmaji, SE., kepada Suara NTB di DPRD
Kota Mataram, Selasa (3/6) kemarin. Menurutnya, kalau memang Pemkot komit,
apapun hasilnya Komisi II tetap harus dilibatkan dalam pembahasan.
Misban
meminta pembahasan rencana kenaikan royalti Mataram Mall harus dilakukan secara
transparan. Padahal, lanjutnya, semangat Komisi II mendorong perhitungan
rencana kenaikan royalti Mataram Mall oleh tim apprisal, tidak lain agar PAD
Kota Mataram meningkat. Ia mengaku, memang sudah ada perjanjian sebelumnya
antara Pemkot Mataram dengan PT. Pasifik Cilinaya Fantasi selaku pengelola
pusat perbelanjaan terbesar di Kota Mataram itu.
Termasuk
ketika ada penambahan bangunan mall 2. Misban mengimbau kepada PCF, kalau
memang pengelola mall mau memberikan kontribusi, seharusnya tidak akan
keberatan dengan rencana kenaikan nilai royalti. ‘’Tetapi kalau nilai itu
dianggap kebesaran, mari kita bicarakan sama-sama,’’ ajaknya.
Dalam
masalah ini, kata Misban, kuncinya Pemkot Mataram harus bersikap tegas.
‘’Jangan sebaliknya, Pemkot yang ‘’ditekan’’ mall,’’ imbuhnya. Selama ini
ketika akan dilakukan kenaikan nilai royalti, PCF kerap beralasan kalau
pihaknya telah banyak menyerap tenaga kerja. ‘’Memang tenaga kerja yang diserap
banyak tapi di balik penyerapan tenaga kerja itu, mereka untung,’’ tandasnya.
(fit)
Komentar