Pernikahan Dini Dipicu Kesulitan Ekonomi
Mataram
(Suara NTB) –
Meski
angka pernikahan dini di Kota Mataram diklaim relatif kecil, namun BPPKB (Badan
Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana) Kota Mataram, tidak mau lengah.
Pasalnya, kebanyakan kasus pernikahan dini yang terjadi di Kota Mataram dipicu
karena faktor kesulitan ekonomi.
Kepala
BPPKB Kota Mataram, Sutrisno yang ditemui di Mataram, Senin (14/7) kemarin
mengatakan, pihaknya telah mengambil sejumlah langkah antisipasi untuk mencegah
berkembangnya pernikahan dini. Salah satunya dengan menggalakkan sosialisasi
bahayanya pernikahan dini.
Sosialisasi
dilakukan dalam berbagai kesempatan. Baik dengan melibatkan kader posyandu,
PKK, juga melibatkan tokoh agama dan masyarakat. Dalam berbagai acara hingga di
tingkat lingkungan, sosialisasi terkait bahayanya pernikahan dini, selalu
disisipkan. Sutrisno menjelaskan, adapun bahaya pernikahan dini, dikhawatirkan
terjadinya perceraian dan tidak bisa memenuhi hak-hak anaknya nanti.
Sutrisno
mengaku sosialisasi pendewasaan usia perkawinan rutin dilakukan pihaknya di
enam kecamatan se-Kota Mataram. Namun demikian, ia menyadari, sosialisasi saja
tidak cukup untuk mencegah terjadinya pernikahan dini. Mengingat salah satu
faktor pemicu terjadinya pernikahan dini karena kesulitan ekonomi, pihaknyapun
berinisiatif memberikan bantuan modal usaha kepada kelompok KB.
Satu
kelompok terdiri dari 10 – 20 orang anggota. ‘’Mereka diberikan bantuan antara
Rp 3 – 5 juta tergantung pada bentuk usahanya,’’ terang Sutrisno. Ia berharap
dengan adanya bantuan modal usaha bergulir itu, kelompok-kelompok tersebut
mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya, sehingga mampu menyekolahkan
anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.
Selain
itu, BPPKB juga telah membentuk PIKR sebagai salah satu wadah untuk
mensosialisasikan pendewasaan usia perkawinan. Sasarannya adalah pondok
pesantren, karang taruna dan majelis ta’lim. (fit)
Komentar