Disosnakertrans Jangan Bela Diri


Anjal Masih Banyak Berkeliaran


Mataram (Suara NTB) –
Sejumlah upaya yang dilakukan Pemkot Mataram untuk meminimalisir jumlah anjal, nampaknya belum sesuai harapan. Kenyataannya, masih banyak anjal yang berkeliaran. ‘’Saya minta Kepala Disosnakertrans jangan membela dirilah. Saya lihat sendiri kok, sepulang tarawih masih banyak anjal yang berkelaran di jalan,’’ terang anggota Komisi II DPRD Kota Mataram Misban Ratmaji yang menghubungi Suara NTB, Kamis (10/7) kemarin

Bahkan, Misban mengaku sempat menanyakan asal usul anjal tersebut. Ia meminta, Kepala Disosnakertrans lebih sering turun ke lapangan, sehingga mengetahui kondisi senyatanya. Ia menyayangkan pos pantau yang telah dibangun di sejumlah perempatan yang ada di Kota Mataram, tidak difungsikan secara kontinyu. ‘’Seharusnya pos pantau itu jangan difungsikan jam-jaman tapi terus menerus,’’ pintanya.

Sebelumnya Kepala Disosnakertrans Kota Mataram, Ahsanul Khalik menegaskan, persoalan anjal, gepeng dan pengemis tidak bisa dilihat secara sepintas, melainkan harus dilihat dari seluruh aspek dan perlu formulasi. Kendati demikian, Khalik tidak memungkiri kalau pos pantau di pagi hari tidak dijaga oleh Tagana. Hal tersebut memiliki alasan, karena sebagian besar petugas atau tagana memiliki tanggungjawab atau bekerja di instansi lain. Kedua, memang kurangnya personel dan anggaran penguatan pos pantau. Terakhir, pihaknya mengevaluasi pola – pola anjal yang menghindari pos pantau.

Pengajuan anggaran pada APBD Perubahan khusus penanganan anak jalanan, pengemis dan gepeng di Mataram senilai Rp 100 juta pertahun, berbanding terbalik dengan harapan yang ada. Pasalnya, realisasi anggaran hanya Rp 25 juta pertahun. Disosnakertrans kewalahan merincikan peruntukan anggaran tersebut.

Diakui, pihaknya sudah bekerja selama lima bulan untuk penanganan anak jalanan, gepeng dan pengemis tanpa ada anggaran sedikitpun. Kendati demikian, dia mengklaim bahwa anggaran tidak menjadi persoalan atau halangan untuk bekerja sesuai dengan tugas dan tanggungjawab. “Sudah lima bulan kita bekerja, memang tidak ada anggaran,” akunya.

Kondisi tersebut langsung ditanggapi Sekda Kota Mataram, sehingga langsung mendisposisikan penganggaran pada APBD Perubahan. Kenyataannya, dari perencanaan Rp 100 juta yang diusulkan, pihaknya hanya mendapatkan Rp 25 juta untuk penanganan anjal, gepeng dan pengemis. Dengan proporsi anggaran tersebut, pihaknya merasa kesulitan untuk merincikan anggaran yang hanya Rp 25 juta. Dari pos anggaran yang direncanakan dirincikan Khalik, khusus petugas piket 30 orang diberikan upah Rp 30 ribu perhari, razia khusus dengan polisi dan Pol PP, biaya patroli, silaturahmi ke rumah anjal, membayar kepala lingkungan khusus memantau anjal di lingkungannya Rp 300 perbulan. Artinya, anggaran tersebut sangat minim melihat perencanaan dan tugas yang ada. (fit/cem)

Komentar