Evaluasi Program SKPD


SERAPAN anggaran Dinas PU Kota Mataram yang hanya mencapai 11 persen, cukup mengecewakan. Pasalnya, sebagai salah satu SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dengan anggaran terbesar, serapan anggaran ternyata hanya sekitar 11 persen dalam triwulan kedua.

Meskipun Kepala Bagian (Kabag) APP (Administrasi dan Pengendalian Pembangunan) Setda Kota Mataram, Rudi Suryawan mengklaim minimnya capaian Dinas PU, lantaran pinjaman daerah di PIP (Pusat Investasi Pemerintah) sebesar Rp 60 miliar, belum terealisasi, disamping sebab-sebab lainnya. Penyebab lainnya atas minimnya serapan anggaran sebagaimana diakui Kepala Dinas PU Kota Mataram, Ir. H. Mahmuddin Tura karena banyaknya proyek fisik yang belum dimulai.

Banyaknya proyek yang belum dimulai lantaran pembaharuan SBU (Sertifikasi Badan Usaha). Selama SBU belum ada, kontrak belum bisa dilaksanakan. Sehingga kegiatan fisik baru bisa dilaksanakan pada Bulan Juli ini. Dalam setiap evaluasi serapan anggaran SKPD, hampir tidak pernah nihil SKPD dengan capaian-capaian yang mengecewakan.

Lepas dari alasan yang diungkapkan Kepala Dinas PU Kota Mataram, fenomena serapan anggaran yang rendah ini seolah sudah menjadi tradisi. Mestinya, hal-hal yang kurang baik seperti rendahnya serapan anggaran jangan menjadi ‘’tradisi’’ setiap tahun. Apalagi Kepala Dinas PU Kota Mataram mengakui, bahwa serapan anggaran yang rendah di SKPD yang dipimpinnya bukan terjadi kali ini saja.

Karena hal ini terus berulang setiap tahun, sementinya ada langkah antisipasi yang dilakukan masing-masing SKPD lingkup Pemkot Mataram. sayangnya, sampai sejauh ini, pola-pola lama dalam penanganan proyek fisik masih dipertahankan. Padahal, hal ini sering menjadi sorotan legislatif. Bahkan disebut-sebut proyek fisik di Kota Mataram dikerjakan dalam rentang waktu yang berpotensi mengurangi kualitas pekerjaan karena waktu yang mepet.

Seharusnya, SKPD bisa lebih cerdas dalam menterjemahkan percepatan pembangunan yang kerap disuarakan kepala daerah dalam berbagai kesempatan. Sebab, jika keliru memaknai maksud dan tujuan program percepatan pembangunan, bukan tidak mungkin program-program pendukung yang diciptakan masing-masing SKPD juga akan keliru.

Sekda selaku pembantu Walikota dan Wakil Walikota harus cepat tanggap atas kondisi yang tengah berlangsug. Misalnya seperti saat ini, sejumlah SKPD seperti dilansir bagian APP Setda Kota Mataram, serapan  anggarannya masih rendah. Bahkan diantara semua SKPD yang ada, Dinas PU Kota Mataram disebut-sebut SKPD dengan serapan paling sedikit. Hal ini harus segera disikapi oleh Sekda dengan memanggil pimpinan SKPD bersangkutan.

Sekda sesering mungkin melakukan evaluasi terhadap program yang dibuat masing-masing SKPD berikut anggaran yang dibutuhkan. Manakala ada SKPD yang capaiannya dibawah standar, maka harus langkah lebih lanjut. Mencari tahu penyebabnya dan menyiapkan solusinya agar tahun berikutnya, hal itu tak lagi menjadi persoalan. (*)

Komentar