Jangan Ciderai Visi Kota Mataram



KEBERADAAN cidomo di Kota Mataram kembali menjadi sorotan kalangan legislatif. Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram, Misban Ratmaji menilai, keberadaan cidomo turut menyumbang kekumuhan di jalan-jalan akibat kotoran yang tercecer.

Misban Ratmaji kepada Suara NTB di Mataram kemarin mengatakan, tercecernya kotoran kuda di jalan-jalan akibat bentuk kantong kotoran kuda yang tidak memadai. Ia menilai Dishubkominfo Dinas (Perhubungan Komunikasi dan Informatika) Kota Mataram kurang inovatif dalam merancang desain kantong kotoran kuda, sehingga tidak jatuh ke jalan.

Misban mengaku prihatin dengan kondisi ini. Pasalnya, tidak hanya tercecer di kampung-kampung, kotoran kuda bahkan tercecer di jalan raya, sehingga terkesan kumuh. Apalagi kusir cidomo enggan membersihkan kotoran kudanya yang tercecer dan mengotori jalan raya. Selain karena desain kantong kotoran kuda yang dituding sebagai penyebab tercecernya kotoran kuda di jalan, yang lebih parah lagi, tidak sedikit cidomo yang tidak memiliki kantong kotoran kuda.

Ia menegaskan, untuk meningkatkan kebersihan jalan raya, setiap cidomo wajib dilengkapi dengan kantong kotoran kuda yang memadai. ‘’Bagaimana bentuk yang efektif, itu harus dipikirkan,’’ pintanya. Sehingga, tidak tercecer di jalan dan aromanya tidak tercium oleh penumpang.

Menurut dia, bentuk penampungan kotoran kuda yang digunakan oleh cidomo-cidomo yang beroperasi di Mataram, perlu disempurnakan kembali. Selama ini penampungan kotoran kuda terkesan asal ada. Padahal pada praktiknya, kotoran kuda lebih sering jatuh ke jalan ketimbang ke penampung kotoran kuda.

Misban menyarankan kepada Dishubkominfo untuk memberikan bantuan penampungan kotoran kuda kepada pemilik cidomo yang ada di Kota Mataram. Khusus untuk desain penampung kotoran kuda yang efektif, Dishubkominfo diminta melakukan studi banding ke daerah-daerah yang masih ada menggunakan tenaga kuda, seperti Yogyakarta. ‘’Di Yogyakarta itu bagus penampungan kotoran kudanya,’’ imbuhnya.

Ia berharap, keberadaan cidomo dengan kotoran yang kerap tercecer di jalan, tidak menciderai visi Kota Mataram, ‘’maju, religius dan berbudaya’’. Selain itu, Dishubkominfo harus menertibkan jalur-jalur yang boleh dilewati oleh cidomo. ‘’Harus diberikan jalur-jalur yang kira-kira tidak menimbulkan kemacetan,’’ tandasnya. (fit)

Komentar