BELUM
cairnya pinjaman daerah di PIP (Pusat Investasi Pemerintah) mengundang berbagai
reaksi di kalangan Dewan. Termasuk dua opsi yang pernah ditawarkan Walikota
Mataram, H. Ahyar Abduh dalam sebuah rapat paripurna beberapa waktu lalu,
menyikapi belum jelasnya nasib pinjaman Rp 60 miliar di PIP itu.
Anggota
Komisi III DPRD Kota Mataram, Lalu Putra Wangsa, ST., kepada Suara NTB di kantornya, Rabu (2/7)
kemarin mengaku, dirinya lebih setuju pada opsi menggunakan Silpa (Sisa lebih
perhitungan anggaran), ketimbang meminjam di Bank NTB. Lagipula, Silpa dari
APBD Kota Mataram, lumayan besar.
Apalagi
saat ini, Pemkot Mataram juga sudah mulai menganggarkan perbaikan jalan rusak
dalam APBD perubahan Kota Mataram. Pengerjaannya nanti, menurut Putra Wangsa,
bisa dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan jalan rusak berat
terlebih dahulu. Ia menyayangkan tak kunjung cairnya pinjaman daerah di PIP.
Apalagi
saat ini Perda pinjaman daerah itu sudah jadi. Ia tidak menampik proses
peminjaman anggaran perbaikan jalan rusak di PIP sudah keliru sejak awal.
‘’Seharusnya diajukan dulu baru kemudian Perdanya dibuat. Tapi di kita
(Mataram, red), Perdanya sudah jadi, tapi pinjamannya belum jelas kapan
cairnya,’’ demikian Putra Wangsa.
Ia
mempertanyakan mengapa baru sekarang PIP beralasan bahwa Mataram merupakan
satu-satunya kota yang mengajukan pinjaman untuk perbaikan jalan. ‘’Kenapa
tidak dari awal dikatakan seperti itu,’’ imbuhnya. Namun demikian, kata Putra
Wangsa, Dewan tidak dalam posisi mendorong Pemkot Mataram untuk membatalkan
pinjaman itu. ‘’Mungkin Pemkot melihat masih ada harapan,’’ pungkasnya. (fit)
Komentar