Tergantung Inovasi


SEKOLAH swasta yang nyaris tidak kebagian siswa setiap kali proses PPDB Penerimaan Peserta Didik Baru seolah menjadi fenomena rutin setiap tahun ajaran baru. Menurut Sekretaris Komisi II DPRD Kota Mataram, Lalu Suriadi, SE., di satu sisi pihaknya merasa prihatin terhadap kondisi tersebut. Tetapi, di sisi lain, sekolah swasta dituntut punya inovasi untuk menggaet calon siswa baru.


Suriadi tidak memungkiri, sampai saat inipun, sekolah negeri masih menjadi pilihan utama masyarakat. Siapapun, tidak bisa mencegah orang tua murid untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. ‘’Karena ini dilindungi oleh undang-undang, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak,’’ terangnya menjawab Suara NTB di ruang kerjanya, Sabtu (5/7).

Masyarakat, lanjut politisi PAN ini, masih berpandangan bahwa pendidikan yang layak itu di sekolah negeri. Walaupun sebetulnya harus diakui, tidak semua sekolah swasta tidak berkualitas. ‘’Ada juga sekolah swasta yang bagus,’’ cetusnya. Menjadikan sekolah swasta menjadi sekolah berkualitas, yang paling utama adalah menjadi tugas sekolah bersangkutan. Bagaimana sekolah itu mampu berinovasi supaya memiliki kualitas yang setara dengan sekolah negeri.

Kalau saja semua sekolah swasta yang ada di Kota Mataram misalnya memiliki standar kualitas yang sama, sebenarnya sangat berpotensi membantu pemerintah dalam hal pemerataan kualitas pendidikan. Sehingga, calon siswa tidak menumpuk semua di sekolah negeri. Apalagi, Kota Mataram masih kekurangan ruang kelas baru.

Suriadi tidak setuju jika menciptakan kualitas di sekolah swasta, masih terkendala anggaran. Pasalnya, perlakukan pemerintah terhadap sekolah negeri dan swasta dari segi anggaran, dinilai sama. ‘’Mereka dapat BOS (Bantuan Operasional Sekolah), mereka juga dapat bantuan guru,’’ ujarnya. Tinggal bagaimana sekolah swasta mengelola bantuan-bantuan dari pemerintah tersebut.

Suriadi mengimbau kepada sekolah-sekolah swasta untuk ‘’menjual’’ produk unggulan mereka. Sehingga, tidak terlalu banyak masyarakat yang berebut masuk sekolah melalui jalur bina lingkungan. ‘’Prinsip BL ini kan untuk mengurai keinginan masyarakat masuk ke sekolah-sekolah favorit,’’katanya. Ia menegaskan, semangat bina lingkungan ada tiga. Pertama, efisiensi secara ekonomi, mengurangi risiko dan mudah dikontrol oleh orang tua.

‘’kalau dia siswa, sekolah di sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya, tentu akan mengurangi biaya, terutama yang berkaitan dengan transportasi. Begitu pula kalau sekolahnya jauh dari rumah, risiko kecelakaan juga tinggi,’’ tandasnya. (fit)

Komentar