Mataram
(Suara NTB) –
Mengantisipasi
bencana kebakaran yang mungkin terjadi selama perayaan lebaran, Kantor Damkar
(Pemadam Kebakaran) Kota Mataram menetapkan status siaga satu. Demikian
dikatakan Kasi Bimbingan Penyuluhan dan Pelatihan Kantor Damkar Kota Mataram,
Ahmad Muslihadin kepada Suara NTB di
rumahnya, Jumat (1/8) kemarin.
Menurut
Ahmad, status siaga satu sebenarnya merupakan rutinitas. Tidak hanya pada saat
perayaan lebaran saja. ‘’Damkar ini beda statustugasnya dengan instansi lain,
baik Polri maupun TNI. Siaga satu itu rutinitas. Begitu serahterima tugas, saat
itu juga siaga satu,’’ terangnya. Karena bagaimanapun juga kebakaran tentu
tidak dapat diduga kapan terjadinya.
Untuk
itu, menjelang perayaan lebaran, meski diklaim tidak ada persiapan khusus,
namun Damkar lebih meningkatkan kewaspadaannya terhadap kemungkinan-kemungkinan
terburuk sekalipun. Bahkan, saat Lebaranpun, bagi Damkar tidak berlaku libur
lebaran atau pun cuti bersama. Sebanyak tiga pleton tetap disiagakan demi
memberi rasa aman dan nyaman kepada masyarakat.
Tiga
pleton pasukan Damkar atau sekitar 90 petugas disiagakan secara bergilir selama
24 jam setiap hari. ‘’Hanya pada hari H saja, kami pinjam anggota yang non
muslim untuk menggantikan kami yang akan melaksanakan ibadah Solat Id,’’
akunya. Sementara itu, menjelang lebaran, dari jauh-jauh hari pihaknya, sambunh
Ahmad, telah melakukan langkah antisipasi.
Sebab,
menelang perayaan lebaran, sudah pasti aktivitas memasak akan meningkat. Pihak
damkar, kata Ahmad meningkatkan kewaspadaan dengan mengecek segala persiapan.
Mulai dari personel, hingga armada. Ia merasa bersyukur karena Pemkot Mataram
memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan Damkar. Dimana belum lama ini Damkar
telah membeli sebuah mobil damkar seharga Rp 1,8 miliar yang diharapkan dapat
meningkatkan kinerja Damkar.
Ahmad
menyebutkan, saat ini Damkar memiliki 10 armada dengan rincian, mobil Damkar
berkapasitas 3000 liter tiga unit, kapasitas 4000 liter tiga unit, kapasitas
5000 liter tiga unit dan kapasitas 6000 satu unit. Tetapi diantara 10 kendaraan
operasional milik Damkar, tiga diantaranya telah uzur. ‘’Karena itu mobil
buatan tahun 1970,’’ cetusnya sembari mengatakan tiga kendaraan tersebut sudah
tidak bisa dioperasionalkan.
Kendati
demikian, dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya yang ada di NTB, pihaknya
mengaku sangat bersyukur. ‘’Kalau melihat daerah-daerah lain di NTB ini, kita
yang paling banyak armadanya,’’ akunya. (fit)
Komentar