BERBAGAI
upaya dilakukan Pemkot Mataram untuk menciptakan daerah yang bersih dan sehat.
Jika sebelumnya ada program bedah rumah, kini Pemkot Mataram melalui Dinas PU
Kota Mataram menciptakan program baru yang dibanderol dengan nama ‘’bedah
kampung’’. Dalam program bedah kampung, bukan lagi rumah warga yang dibedah
melainkan kondisi lingkungan di satu kelurahan.
Kebijakan
ini nampaknya tidak terlepas dari banyaknya lingkungan yang masuk dalam
katagori padat, kumuh dan miskin. Sejumlah lingkungan di Mataram
teridentifikasi masuk dalam katagori tersebut. Kondisi padat, kumuh dan miskin
ini, tentu tidak bisa dianggap sebagai kondisi yang biasa-biasa saja di tengah
pesatnya pembangunan di Kota Mataram. justru, kalau dibiarkan tanpa langkah
konkret, bukan mustahil, lingkungan yang masuk dalam katagori ini, akan meluas.
Mengatasi
kondisi padat, kumuh dan miskin ini, tidak bisa hanya bergantung pada satu SKPD
(satuan Kerja Perangkat Daerah) saja. Harus ada upaya bersama untuk menyelesaikan
persoalan tersebut. Sebab, dari tiga penyakit yang dihadapi masyarakat di suatu
lingkungan, yakni padat, kumuh dan miskin, tentu tidak bisa semuanya diatasi.
Dari hal tersebut, Pemkot Mataram mungkin hanya bisa mengatasi dua persoalan saja,
yakni kumuh dan miskin.
Sementara
untuk masalah padat penduduk, nampaknya sulit dikurangi. Karena memang di
kampung-kampung yang notabene penduduk asli Kota Mataram masih ada fenomena
tinggal berkelompok. Misalnya, dalam satu rumah bisa ditinggali oleh lebih dari
satu kepala keluarga. Hal ini menjadi salah satu pemicu bertambahnya kepadatan
kenduduk di lingkungan tersebut.
Penduduk
yang tinggal dengan pola demikian, umumnya masyarakat miskin. Sehingga mau
tidak mau menjadi sanitasi lingkungan menjadi tidak sehat. Upaya penanganan
kelurahan padat, kumuh dan miskin, harus dilakukan dengan pola edukasi. Sebab,
selama ini, program bedah rumah misalnya. Pascadibedah, masih ada saja rumah yang
kembali menjadi kumuh.
Ini
harus menjadi bahan evaluasi Pemkot Mataram dalam menciptakan program baru.
Seperti halnya program bedah kampung. Program itu hendaknya tidak sebatas
digulirkan begitu saja. Program tersebut hendaknya edukatif. Sehingga mampu
memberi pembelajaran kepada masyarakat, bahwa kebersihan lingkungan itu bukan
hanya tanggung jawab pemerintah tapi juga masyarakat.
Agar
program bedah kampung mengena, dalam pelaksanaannya sebaiknya melibatkan
masyarakat secara aktif. Sehingga masyarakat tidak menjadi manja dan ke depan
diharapkan mampu mempertahankan kondisi lingkungan yang bersih. (*)
Komentar