Jangan Main Potong



ANGGOTA DPRD Kota Mataram Syamsul Bahri, SH., menyarankan Dinas Pertamanan Kota Mataram jangan asal main potong dalam menyikapi tunggakan pajak reklame. ‘’Dengan langkah main potong, harus dipikirkan juga dari mana biayanya,’’ ujarnya. Syamsul khawatir kebijakan memotong papan reklame bakal berakibat lebih besar pasak daridapa tiang. ‘’Jangan-jangan biaya yang dikeluarkan untuk memotong itu lebih besar dari tungakan pajak yang harus ditaguh,’’ imbuhnya.

Menyikapi tunggakan pajak reklame, lanjut Syamsul, tidak bisa dilakukan hanya dengan cerita. Dibutuhkan ketegasan dari Dinas Pertamanan. ‘’Jadi tindakan tegas itu harus dilakukan secara nyata,’’ tandasnya. Tindakan ini tentu harus diawali dengan teguran, baik secara lisan maupun tertulis. Jika sampai teguran ketiga peruhaaan reklame masih membandel, barulah Pertamanan menjatuhkan sanksi tegas.

Bila perlu, kata politisi Partai Nasdem ini, Pertamanan memanggil perusahaan-perusahaan reklame yang masih menunggak pajak. Tidak hanya itu, Pertamanan juga diminta mengecek kelengkapan izin yang dimiliki oleh perusahaan reklame bersangkutan. ‘’Apakah izinnya mati atau masi hidup,’’ cetusnya.

Langkah yang diperlukan Dinas Pertamanan saat ini, lanjut Syamsul, kepada perusahaan yang legal namun masih menunggak pajak agar diberi pengarahan untuk melunasi kewajibannya. Sebaliknya, bagi reklame ilegal atau reklame yang diterbitkan oleh perusahaan yang notabene tak punya, supaya diarahkan mengurus izin berkaitan dengan reklame itu.

Dinas Pertamanan, kata anggota Fraksi Gerakan Nurani Bangsa DPRD Kota Mataram ini, diminta tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tapi bagaimana Pertamanan juga memperhatikan spesifikasi bahan konstruksi yang digunakan perusahaan jasa reklame. ‘’Jangan hanya keluarkan izin, spek juga harus diperhatikan,’’ demikian Syamsul.

Pada bagian lain Syamsul juga menyoroti masih semrawutnya penataan reklame di Kota Mataram. Pertamanan dinilai kurang kreatif dalam memperkuat ciri khas Kota Mataram dengan visi maju, religius dan berbudaya. Mestinya, di setiap pintu masuk Kota Mataram harus ada tugu-tugu yang mempunyai nilai historis. Apalagi Mataram merupakan barometer daerah-daerah di NTB. ‘’Kita Masuk Mataram langsung disambut iklan rokok,’’ selorohnya. (fit)

Komentar