SEKRETARIS Komisi II DPRD Kota Mataram L. Suriadi
menilai perayaan Lebaran Topat cukup potensial ‘’dijual’’ kepada wisatawan.
Baik wisatawan lokal, nasional, maupun mancanegara. Sayangnya, selama ini
perayaan Lebaran Topat di Kota Mataram, terkesan rutinitas dan berlalu begitu
saja.
Untuk itu, Suriadi menyarankan kepada Disbudpar Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram untuk mengemas perayaan Lebaran Topat
menjadi event pariwisata yang bisa merangsang tingkat kunjungan wisatawan
datang ke Kota Mataram. ‘’Itu menjadi salah satu harapan kita. Bagaimana
Lebaran Topat bisa menjadi destinasi wisata dan bisa dijual kepada wisatawan,’’
tuturnya menjawab
Suara NTB via ponsel, Kamis (31/7)
kemarin.
Politisi PAN ini yakin, jika perayaan Lebaran Topat
dikemas dengan apik dan menarik, akan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Misalnya,
Disbudpar bisa memproduksi kegiatan-kegiatan yang menarik. ‘’Dengan
mengkombinasikan kesenian lokal dengan kesenian dari tanah Arab,’’ ujarnya
mencontohkan. Tetapi, kalau ide tersebut diterapkan pada perayaan Lebaran Topat
Senin (4/8)
mendatang, tentu sangat terlambat.
‘’Ide ini mungkin bisa diterapkan tahun depan,’’
cetusnya. Karenanya, Suriadi meminta ke depan, Disbudar harus merencanakan hal
ini dengan matang. Sayangnya, setiap perayaan Lebaran Topat kerap bertepatan
dengan hari masuk kerja. Namun demikian, jadwal ini harus bisa disiasati oleh
Disbudpar. Apalagi di Mataram sudah banyak berdiri hotel yang mampu mendukung
kunjungan wisatawan ke daerah ini.
Paling tidak, event Lebaran Topat nantinya bisa dijual
kepada wisatawan lokal. Selama ini, hampir setiap tahun perayaan Lebaran Topat
di Kota Mataram hanya bersifat seremonial belaka. Padahal, lanjut Suriadi,
Lebaran Topat merupakan salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu oleh
masyarakat. ‘’Inikan setiap tahu, jadi supaya tidak membosankan, Disbudpar
harus mengemas perayaan Lebaran Topat dengan kegiatan atau suguhan-suguhan yang
menarik,’’ sarannya.
Seperti diketahui, perayaan Lebaran topat di Kota
Mataram, diisi dengan kegiatan ritual seperti ngurisan dan lomba dulang
penamat. Selain itu, Pemkot Mataram selalu menyiapkan panggung hiburan untuk
rakyat. Suriadi juga menyarankan Disbudpar Kota Mataram ke depan menggelar
kesenian-kesenian daerah yang bernuansa religius. (fit)
Komentar