RENCANA
Dinas PKP (Pertanian Kelautan dan Perikanan) Kota Mataram membuat perwal
tentang lahan pertanian abadi, menuai pro kontra. Anggota Komisi II DPRD Kota
Mataram, TGH. Ahmad Muchlis kepada Suara
NTB di Mataram kemarin mengungkapkan, bukan perkara mudah mempertahankan
lahan pertanian di Kota Mataram.
‘’Ciri
kota adalah kebanyakan penghasilan dari layanan jasa, pendidikan dan
lain-lain,’’ ujarnya. Menurut politisi PKS ini, keberadaan lahan abadi di
Mataram, tidak bisa dipaksakan. Selain itu, di Mataram kebanyakan orang,
termasuk pendatang mencari lapangan pekerjaan. Sehingga, tidak bisa dipungkiri
keberadaan sawah berangsur akan berkurang.
Dengan
jumlah penduduk yang semakin banyak, maka orientasi lahan yang ada, mau tidak
mau untuk perumahan. Termasuk memanfaatkan lahan pertanian menjadi perumahan. ‘’Hal
ini tidak bisa ditahan. Yang penting ada ruang terbuka hijau sebanyak 30 persen
sesuai aturan,’’ imbuhnya. Keberadan RTH lah yang harus dipikirkan dengan
serius ke depannya.
Ahmad
Muchlis menegaskan bahwa RHT tidak melulu sawah. Lagipula, beras misalnya,
harganya sudah dipatok. Ia mengimbau Dinas PKP (Pertanian Kelautan dan
Perikanan) Kota Mataram jangan berpikir sektoral. ‘’Kalau ada uang, beras itu
gampang dibeli,’’ kelakarnya. Menurut Muchlis rencana membuat Perwal tentang
lahan abadi sebaiknya dikaji mendalam. ‘’Harus dipikirkan juga dampaknya lebih
jauh.
Ia
melihat, hal ini cukup sulit terwujud di tengah pesatnya pembangunan di
Mataram. Muchlis justru lebih setuju jika Dinas PKP mengelola RTH serta
menjamin persentasinya sesuai aturan. Untuk mewujudkan RTH 30 persen,
lanjutnya, memang tidak ansih menjadi tugas pemerintah saja. Karena banyak
lahan pertanian di Mataram yang telah beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk,
maka pihak pengembangpun harus berkontribusi.
Katanya,
harus ada regulasi yang mengikat supaya para pengembang juga menyiapkan RTH
dalam setiap pembangunan. Terkait lahan pertanian, lanjut Muchlis, trend pola
pertanian di kota-kota saat ini tidak lagi pertanian konvensional, seperti
menanam padi di sawah. ‘’Tapi model pertanian modern. Misalnya yang ditanam itu
durian bangkok,’’ sebutnya. Sebab kalau hanya menanam padi di Mataram, tentu
kini para pemilik lahan, berpikir yang mampu menghasilkan lebih dari itu. (fit)
Komentar