KETUA
Komisi II DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati, S.Sos., mengaku cukup prihatin
belum terbangunnya rumah pemulihan gizi. Padahal, rumah pemulihan gizi itu
merupakan satu rangkaian dari program aksi Mataram menuju kota layak anak 2018.
Apalagi sampai saat ini ternyata Dinas Kesehatan Kota Mataram mengaku belum
paham mengenai konsep rumah pemulihan gizi tersebut.
Kepada
Suara NTB via ponsel, Nyayu
menuturkan, ada staf dari BP2KB (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga
Berencana) Kota Mataram yang mengikuti kunjungan kerja Komisi II ke kota
Yogyakarta tahun lalu. Salah satu yang dipelajari intensif di kota gudeg itu
adalah mengenai penerapan rumah pemulihan gizi. Ketua Fraksi PDIP Kota Mataram
ini mengaku heran hingga saat ini rumah pemulihan gizi masih sebatas rencana.
Dalam
pembangunan rumah pemulihan gizi, SKPD yang menjadi leading sektor adalah
BP2KB. Untuk itu, Nyayu mendorong terjalinnya koordinasi intensif antara BP2KB
dan Dikes Kota Mataram. ‘’Jadi koordinasi antara BP2KB dan Dikes tidak bisa
putus. LPA (Lembaga Perlindungan Anak) siap membantu. Namun tetap harus BP2KB
dan Dikes yang jadi depan,’’ ujarnya.
Nyayu
menangkap adanya komunikasi yang kurang efektif antara BP2KB dengan Dikes,
sehingga belum ada pembicaraan sama sekali terkait rencana pembangunan rumah
pemulihan gizi tersebut. ‘’Belajarnya sudah dari tahun lalu sebelum launching
Mataram menuju kota layak anak. Apalagi TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah)
sangat mendukung anggarannya. Lalu apalagi yang jadi kendala,’’ tanyanya.
Nyayu
sangat menyayangkan untuk rumah pemulihan gizi, baik BP2KB maupun Dikes Kota
Mataram terkesan salah tangkap dan harus membuat bangunan khusus untuk rumah
pemulihan gizi itu. ‘’Itu dia, seharusnya kan
bisa menggunakan gedung milik BP2KB yang ada di Ampenan Tengah,’’ tandasnya.
Jika
ada pihak yang menganggap keberadaan rumah pemulihan gizi kurang penting, Nyayu
memastikan pandangan itu keliru. Buktinya, sambungnya, kasus gizi buruk maupun
gizi kurang masih sering dijumpai di Kota Mataram yang tidak ditangani
Puskesmas karena usianya di atas lima tahun. Menurut dia, penanganan di
Puskesmas dan di rumah pemulihan gizi sangat berbeda. ‘’Di rumah pemulihan gizi
sang anak dirawat dan ibunya diberikan pendidikan bagaimana memberikan asupan
gizi yang baik kepada si anak, sampai gizinya baik,’’ tandasnya. (fit)
Komentar