Telan Anggaran Rp 300 Juta



Anggota DPRD Kota Mataram akan Diklat di Senggigi


Mataram (Suara NTB) –
Sebanyak 40 anggota DPRD Kota Mataram dijadwalkan mengikuti diklat di kawasan Senggigi, Kabupaten Lombok Barat. Orientasi bagi anggota Dewan lingkar selatan ini dipastikan menelan anggaran hingga Rp 300 juta.

Sekretaris DPRD Kota Mataram, Lalu Aria Dharma BS, SH., kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Sabtu (16/8) mengungkapkan, diklat pertama pascadilantik menjadi wakil rakyat di parlemen ini, wajib diikuti semua anggota DPRD Kota Mataram. pemilihan salah satu hotel di Senggigi, lanjutnya, bukan kemauan Sekretariat DPRD Kota Mataram. Meskipun anggaran berasal dari Sekretariat DPRD Kota Mataram namun pihaknya harus tetap mengikuti aturan dari pusat.

Karena, lanjut Aria, kegiatan Diklat ini dikoordinir oleh BKD dan Diklat Provinsi NTB. ‘’BKD dan Diklat Provinsi NTB inilah yang menjembatani kita dengan Badan Diklat Kemendagri,’’ terangnya. Standar hotel yang ditentukan untuk kegiatan Diklat tersebut yakni hotel bintang 4, membuat pihak Sekretariat DPRD Kota Mataram tidak punya pilihan selain mencari hotel di luar Kota Mataram karena Mataram tidak ada hotel bintang 4.

Untuk Diklat bagi anggota DPRD se Pulau Lombok akan dilaksanakan secara kolektif. ‘’Waktunya mungkin berselisih sekitar satu minggu,’’ cetusnya. Aria menyebutkan, Diklat itu akan diselenggarakan tanggal 25 – 29 Agustus 2014. Sedianya Diklat ini akan dilaksanakan di Hotel Santosa. Namun karena berita hotel tersebut disita, pihaknya akan mencari alternatif lain. ‘’Dengan persoalan ini, kami akan koordinasi dengan Badan Diklat, apakah boleh dilaksanakan di hotel di Mataram,’’ ujarnya.

Kegiatan Diklat yang berlangsung selama lima hari itu, diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 300 juta. ‘’RAB ini BKD dan Diklat Provinsi NTB yang menyusun, bukan kami,’’ katanya. Selain digunakan untuk membayar biaya makan minum dan pemateri dalam kegiatan itu, seluruh anggota DPRD Kota Mataram akan diinapkan di hotel. Pertimbangannya, karena kegiatan dimulai pukul 08.00 Wita dan berakhir antara pukul 17.00 – 17.45 Wita, kalau tidak diinapkan dikhawatirkan akan menghambat kegiatan itu. ‘’Waktu ishoma mungkin mereka ingin sholat dan istirahat, kalau tidak dibukkan kamar, kan repot,’’ terang Aria. (fit)


Komentar