Beri Sanksi Edukatif



CITRA dunia pendidikan di Kota Mataram, tercoreng. Ditengah upaya Pemkot Mataram mewujudkan lulusan-lulusan berkualitas, Senin (22/9) puluhan siswa justru terjaring razia. Sekitar 30 siswa itu terjaring di tempat yang tidak seharusnya mereka kunjungi saat itu. Tidak hanya biliar, puluhan siswa itu juga tertangkap basah di tempat persewaan playstation pada jam sekolah.

Seharusnya, puluhan siswa ini bersama ribuan siswa lainnya pada jam tersebut sedang menyimak proses belajar mengajar di kelas. Tetapi ironisnya, mereka justru menghabiskan waktu di tempat bermain. Seperti disampaikan Kepala Seksi Operasi dan Pengendalian  Satpol PP Kota Mataram, Bambang, EYd., mereka (pelajar terjaring razia, red) tidak dilarang bermain. Tetapi tidak pada jam sekolah dan menggunakan pakaian seragam.

Siswa bolos sekolah ini, hendaknya disikapi serius oleh pihak-pihak terkait. Tidak hanya jajaran Dikpora Kota Mataram tapi juga orang tua siswa. Benar, apa yang disampaikan Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, bahwa sekolah harus meningkatkan pengawasan terhadap siswa. Karena bolosnya siswa-siswa itu, tentu ada faktor pemicunya.

Bisa saja ada mata pelajaran yang sedang kosong lantaran guru datang terlambat, sehingga dimanfaatkan untuk membolos oleh siswa bersangkutan. Dikpora selaku instansi yang menaungi guru dan siswa harus segera mengambil sikap tegas. Tidak sebatas mengumpulkan semua kepala sekolah tapi juga mencari formula yang dapat mengatasi persoalan itu.

Sehingga, fenomena siswa bolos sekolah ke depan tidak terulang kembali. Tiap-tiap sekolah harus punya cara untuk mencegah adanya siswa bolos sekolah. Cara ini tentunya harus edukatif. Celah-celah yang membuat siswa ingin membolos harus ditutup. Setiap mata pelajaran tidak boleh kosong. Guru mata pelajaran tidak boleh datang terlambat. Sekolah harus inovatif melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan kesiswaan di sekolah.

Setelah semua bentuk pengawasan itu dilakukan, pihak sekolah juga harus menjalin komunikasi dengan orang tua siswa. Mungkin saja para wali murid tidak mengetahui anaknya bolos sekolah. Untuk itu, agar mendapat pembinaan yang lebih efektif, temua siswa bolos sekolah juga harus disampaikan kepada orang tua siswa.

Dikpora atau sekolah masing-masing harus menyurati, bila perlu memanggil orang tua siswa untuk menyampaikan perilaku anaknya. Sebab, pengawasan kepada siswa tidak bis hanya dilakukan oleh satu pihak saja, seperti Dikpora atau sekolah. Orang tua juga berperan besar dalam membentuk mental siswa yang disiplin dan taat aturan. Terhadap siswa itu sendiri, agar memberi efek jera, juga harus diberikan sanksi. Namun, sanksi kepada mereka jangan seperti sanksi yang dijatuhkan kepada penjahat. Sanksi kepada siswa hendaknya mendidik namun membuat jera. (*)

Komentar